Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Memimpin Tanpa Posisi

Memimpin Tanpa Posisi
“Latihan kepemimpinan sejati adalah kala tak punya posisi. Ketika tak ada yang bisa dipengaruhi kecuali diri sendiri.”
Kepemimpinan selalu dimulai dari dalam. Ia tumbuh menghujam, sebelum menjulang tinggi. Sebab tingginya pohon memerlukan kokohnya akar.
Maka ujian kepemimpinan pertama adalah memengaruhi diri sendiri. Tuk menentukan nasib, dan menjalani hari-hari nan disungguhi. Hanya dengan demikianlah, diri menjadi layak diikuti, meski tak bermaksud mencari pengikut.
Sebab kelayakan untuk diikuti, adalah bahan baku memimpin orang lain. Tak kan sudi seseorang mengikuti pimpinan nan tak pernah menjalankan apa yang diucapkan.
Maka pemimpin sejati, selalu memimpin, ada atau tidaknya pengikut. Bahkan ujian utama seorang pemimpin adalah kala ia tetap teguh berjalan, meski tak satu pun mengikuti. Dari keteguhan inilah, banyak mata kan menandai bahwa apa nan dilakukan memang sesuatu yang berarti. Hingga menggerakkan hati, menyinari jiwa, menggebu langkah tuk turut serta.

Seperti Kran Bocor

Seperti Kran Bocor
Pagi ini sebuah kejadian menimpaku. Saat sedang bergegas mandi, tanganku menyenggol sebuah kran di kamar mandi, dan kran itu pun patah.
Waduh! Patah nih. Bukan sekedar lepas. Maka urusan berangkat tepat waktu pasti lewat. Sebab mengatasi kran patah tentu perlu waktu. Apatah lagi pekerjaan pertukangan semacam membenarkan kran ini bukanlah keahlianku. Yang kupikirkan hanya satu, segera berteriak untuk mematikan kran PAM, agar air tak mengalir terus. Hehe..
Singkat cerita, kran itu kini sudah teratasi. Segalanya sudah normal kembali. Sebab memang bukan soal kran yang mau kuceritakan. Namun sesuatu yang serupa dengannya.
Kuhitung-hitung, sudah 2 kali aku mengalami kejadian serupa. Kran patah, sehingga perlu segera menghentikan aliran air yang pasti tak terkendali. Ya, cukup sebuah kran saja untuk menghebohkan suasana, memaksa kran lain yang masih sehat untuk berhenti beroperasi. Sebab tak diatasinya kondisi semacam ini berarti kesulitan yang lebih besar di kemudian hari.
Mirip seperti kran, demikianlah iman. Ia terjaga, sampai ada satu titik yang ‘bocor’, yakni terjadilah sebuah perbuatan dosa. Cukup satu titik ‘bocor’ ini saja, untuk meruntuhkan bangunan amal yang telah lama didirikan. Jika ia tak ditaubati dengan sungguh-sungguh, bukan tak mungkin diri kan menjelma jadi pribadi yang berubah 180 derajat.
“Iringilah keburukan, dengan kebaikan,” demikian nasihat sampai kepada kita. Benarlah, sebab keburukan ibarat ‘bocor’, dan kebaikan adalah ‘tambalan’-nya. Bertaubatlah segera dengan nasuha, yakni memohon ampun, disertai usaha sekuat tenaga untuk menghindarkan diri dari pengulangan.
Persis seperti kejadian kran patahku tadi, insan yang bertaubat mestilah heboh menjauhkan diri sejauh-jauhnya dari jalan-jalan keburukan. Sebab pernah terjerumusnya diri ke dalam kubangan dosa, meningkatkan kemungkinan terjerumus untuk kedua kali jika tak ditaubati.
Dosa itu membekas. Dan bekasan itu acapkali jalan bagi tergodanya diri tuk kembali mengulangi. Maka berhati-hatilah, wahai diri, pada ‘bocor’-nya iman. ‘Tambal’-lah segera dengan penyesalan, dan teguhnya perbaikan.

Kerisauan Yang Bermanfaat

Kerisauan Yang Bermanfaat
“Risaulah pada yang tak pasti. Jangan merisaukan yang telah pasti.”
Sungguh rezeki telah pasti. Tuhan telah janjikan, jika diri ini tak percaya, lalu pada siapa lagi hendak percaya? Bukankah kala seseorang telah menjanjikan dengan kepastian, kita bisa merasakan tenangnya hati? Padahal ia hanya lah insan biasa, nan jauh tak berdaya dibanding Penciptanya. Maka kerisauan akan rezeki tungguh tak pantas, sedang tiap detik umur berkurang. Adakah faedah pada usia yang habis merisaukan yang telah pasti?
Namun ada yang tak pasti. Yang lebih layak tuk kita risaukan. Ia lah nasib kita di hari akhir kelak. Ia bergantung pada ketaatan, kesungguhan sepanjang hayat yang singkat. Tak pernah tahu kita, adakah kan selamat atau celaka. Sebab seluruh keputusan ada dalam kehendakNya. Inilah, wahai diri, kerisauan yang benar-benar layak bagi insan yang lemah. Kerisauan yang perlu dipelihara agar terpacu diri terus berkebaikan.
Sungguh ada nilai ibadah pada tiap aktivitas yang dijalankan atas namaNya, dengan petunjukNya. Tapi aktivitas yang sama itu bagai debu beterbangan belaka kala luput kita niatkan untukNya, persembahan bagiNya. Tipis, sungguh teramat tipis, beda keduanya. Namun akibat pada kesudahan sungguh bagai bumi dan langit.
Tugas diri ini beribadah. Inilah tugas dan tujuan penciptaan. Rezeki telah dicukupkan. Petunjuk telah dibentangkan. Teladan telah disediakan. Diri inilah yang memilih berada dalam jalan kesulitan atau keselamatan.
Kesudahan itu tak pasti. Maka risaulah. Rezeki dalam kehidupan ini itu pasti. Maka tenanglah.

Pemimpin Adalah Hadiah

Pemimpin Adalah Hadiah
“Pemimpin, adalah hadiah bagi yang dipimpin.”
Demikian sebuah nasihat pernah bertutur. Ya, saya dulu berpikir sebaliknya. Bahwa kita, yang dipimpin ini, membutuhkan seorang pemimpin agar bisa berubah. Ini benar adanya. Hanya dalam banyak kondisi, yang terjadi bisa sebaliknya. Yakni bahwa hadirnya seorang pemimpin, ditentukan oleh yang dipimpin.
Apa pasal?
Lah, memang darimana asal seorang pemimpin jika bukan dari orang-orang yang dipimpin? Darimana lahirnya presiden jika bukan dari rakyatnya? Untuk kasus presiden, terutama, sungguh hampir mustahil sebuah negara mengimpor presiden dari negara lain. Jadilah seorangpresiden sebuah negara, pastilah adalah putra asli negara itu. Nah, di titik inilah mata kita dibukakan, tentang sebuah tanya, “Kapankah kiranya negeri ini memiliki presiden yang teramat amanah dan dicintai rakyatnya?”
Jawabannya adalah, “Ketika kita sungguh-sungguh mempersiapkan, melahirkan, membesarkan, mendidik, para pemimpin dari rumah-rumah kita.” Ya, sebab kita tak pernah tahu dari rumah mana kelak kan datang para pemimpin negeri ini. Bisa jadi itu dari rumah kita. Lalu pemimpin seperti apa kah yang akan kita sumbangkan bagi negeri ini jika mereka tak sungguh-sungguh kita siapkan?
Sisi lain, tak semua pemimpin cocok dengan yang dipimpin. Maka pertanyaan penting yang perlu dijawab oleh kita adalah, “Jika kita menghendaki pemimpin yang amanah, kompeten, shalih, dsb, siapkah kita dipimpin olehnya?” Bersedia kah kita mengikuti perjuangannya, pengorbanannya? Rela kah kita tuk menjalani kehidupan yang bisa jadi tak mudah, namun berada di jalan yang benar?
Jawaban ‘ya’ atas semua tanya itu lah yang menentukan kesiapan kita tuk dihadiahi pemimpin idaman. Bersiaplah, wahai diri, perjalanan masih panjang.

Ajari Aku MencintaiMu

Ajari Aku MencintaiMu
“Ajari aku mencintaiMu dalam lelah. Ajari aku mencintaiMu dalam duka. Karena jiwa kadang rapuh, bosan, tak setia. Ajari aku mencintaiMu.” – Opick –
Sepenggal lirik di atas kutemukan dalam album Ya Maulana, karya terbaru Opick. Entah mengapa syairnya menggelisahkan hati. Mungkin sebab ia lah yang sedang kualami saat ini. Kala jiwa ini rapuh, bosan, dan tak setia. Padahal ia rindu. Padahal ia ingin kembali. Padahal ia ingin bertemu.
Mencintai kala senang tentu mudah. Mencintai kala bahagia pun demikian. Namun mencintai kala diri ini lelah, kala terjatuh, kala berduka, sungguh memerlukan kesungguhan. Apalagi cinta adalah pemberian. Bagaimana kah mungkin diri ini ikhlas melepas, sedang yang dirasakan adalah kehilangan?
Maka kita memang perlu memohon padaNya tuk diajari cara mencintai. Mencintai kala berada dalam kelelahan, dalam kedukaan. Sebab kita perlu cintaNya. Dan kita pun perlu mencintaiNya. Kita perlu cintaNya, sebab tanpanya kita mati. Hilang. Sirna. Kita perlu mencintaiNya, sebab ia lah jadikan diri ini berarti.
MencintaiNya berarti hidup di jalanNya, dalam naungan firmanNya. Sedang tak semua firmanNya terjangkau oleh akal, maka mencintaiNya sungguh menghendaki penyerahan total. Ketundukan tanpa banyak bertanya. Adakah kan terasa nikmat cinta yang terus dipenuhi tanya?
Maka ajarilah aku mencintaiMu, dalam lelah, dalam duka. Agar jiwa yang terbolak-balik ini teguh di jalanMu. Bentangkanlah untukku, duhai Rabb, jalan yang luas lagi lapang. Jalan terdekat tuk kembali padaMu.

Jika Bukan Karena Guru

Jika Bukan Karena Guru
"Jika bukan melalui guru, lalu dari mana kita kan mendapat kucuran ilmu?”
Tak ada pilihan lain bagi pembelajar yang ingin mendulang banyak ilmu, selain mengembangkan terlebih dahulu kesabaran dalam menghadapi guru. Tidak hanya kesabaran dalam arti berusaha menerima dan mencerna ilmu yang diajarkan, melainkan juga kesabaran dalam menerima pribadi beliau apa adanya.
Seorang guru hanyalah penyampai. Kadar penyampaiannya amat tergantung pada kadar kualitas dirinya. Apapun itu, fokus kita mestilah pada ilmu. Kita yang membutuhkan, kita lah yang perlu membangun keteguhan.
Beberapa cara berpikir yang bisa dilatih untuk melahirkan kesabaran saat berhadapan dengan seorang guru adalah:
  1. Berpikirlah laksana seorang musafir di tengah guru nan tandus. Diri ini teramat haus. Lalu datanglah seorang membawa air. Meski sedikit, pun rasa tak nikmat benar, tetap saja syukur yang terucap.
  2. Takkan ada ilmu terkucur jika tak melalui guru. Buku? Yang menulis guru. Video di internet? Yang membuat guru. Kita menikmati ilmu sebab ada orang-orang yang berniat menyebarkan ilmu.
  3. Guru adalah pembawa ilmu—pesan Tuhan. Ilmu adalah cahayaNya. PetunjukNya. Lalu ada seorang yang bersusah payah membawakannya. Tidakkah dalam gelap kita merindu cahaya? Lalu bagaimana kah hendak mencela sang pembawa?
  4. Jangan tertipu hanya pada ilmu yang tersurat. Sungguh, ilmu yang tersirat jauh lebih berlimpah. Seorang guru yang telah hidup bersama ilmunya kan melahirkan gerak-gerik yang lebih kaya dibandingkan perkataannya. Sebab pengalaman batin kerap sulit dijelaskan lewat kata-kata.
  5. Jika asyik tidaknya seorang guru memengaruhi semangatmu, maka periksalah kesucian niatmu. Sebab tujuan kita ilmu. Kala masih memilah memilih, itu lah tanda lemahnya kesungguhan.
  6. Tak ada ilmu yang remeh. Tak ada ilmu yang sederhana. Sebab bagi seorang guru, jika ia belum dapat menjelaskan sesuatu dengan cara yang mudah, ia belumlah terlalu paham. Maka pada kesederhanaan, wahai murid, penasaranlah pada kedalaman yang ada dibaliknya.
  7. Bukan, bukan guru itu yang sedang mengajarimu. Tapi Dia. Sebab ilmu milikNya, maka pembelajaranmu akan ilmunya, sejatinya adalah jalan tuk berbicara denganNya. Melalui cahayaNya, Dia menyapamu. Tidakkah kau kan bahagia?

Menjadi Pemimpin = Menjadi Diri Sendiri

Menjadi Pemimpin = Menjadi Diri Sendiri
“Menjadi pemimpin, adalah perjalanan untuk menjadi diri sendiri, mengekspresikan kesejatian yang telah Tuhan hadirkan.”
Sebab tiap orang adalah pemimpin, dan akan mempertanggungjawabkan setiap hal yang diamanahkan kepadanya, maka menjadi pemimpin memang bukanlah menjadi orang lain. Pun, bukan pula menjadi seseorang yang heroik nan selebritik. Memang, ada para pemimpin yang akan berdiri di garda depan, memimpin ribuan bahkan jutaan orang mencapai tujuan. Namun para pemimpin itu akan sendirian, jika jutaan orang yang mengikuti tak memimpin diri mereka sendiri dan menyadari pentingnya tujuan yang diidamkan tuk dicapai. Dan bukankah kejadian serupa ini sering terjadi? Kala penyeru kebenaran tak mendapatkan pengikut kecuali sedikit?
Adalah Warren Bennis, pakar kepemimpinan yang turut mempopulerkan paradigma bahwa para pemimpin tidak dilahirkan, mereka didik. “Dan dalam banyak kasus, mereka mendidik dirinya sendiri,” ujarnya.
Saya sepakat. Para pemimpin besar, dianggap besar, setelah sekian lama perjalanan ia lalui, dan banyak orang mengikuti. Namun dalam perjalanan itu, kala hanya sang pemimpin sendiri yang mampu melihat arah tujuan jauh ke depan, ia sendirian. Dalam kesendirian itu, ia membentuk dirinya, menjadi sebagaimana kini. Ia didik dirinya, dengan berguru pada banyak orang, sembari menelusuri pengalaman yang ‘berserakan’.
“Para pemimpin,” ujar nasihat bijak, “adalah pemimpin diri, sebelum yang lain.” Karenanya ia otentik, lalu banyak orang mengikuti. Apa pasal? Ya sebab mereka telah melihat bukti berjalan atas apa yang ia perjuangkan. Mereka saksikan kemungkinan, meski masih jauh dari keberhasilan. Ah, kemungkinan, memang adalah senjata para pemimpin. Sesuatu yang mungkin, tentu lah tak pasti. Namun para pemimpin sejati, sebab keotentikan dirinya, mampu menjadikan ketidakpastian itu sebagai energi. Dengannya ia bergerak, dan menggerakkan.
Maka menjadi pemimpin, memang bukan menjadi orang lain. Ia berawal, dan berakhir, pada menjadi diri sendiri, sebagaimana yang Tuhan kehendaki.