Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Bukti Kebenaran Al-Qur'an ? Ini Penjabarannya


Adakah mushaf Al-Quran di setiap rumah keluarga Muslim? Diduga jawabannya adalah “tidak”! Apakah anggota keluarga Muslim yang memiliki mushaf telah mampu membaca Kitab Suci itu? Diduga keras jawabannya “belum”! Apakah setiap Muslim yang mampu membaca Al-Quran mengetahui garis besar kandungannya serta fungsi kehadirannya di tengah-tengah umat? Sekali lagi, jawaban yang diduga serupa dengan yang sebelumnya.

Kitab Suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. antara lain dinamai Al-Kitab dan Al-Qur’an (bacaan yang sempurna), walaupun penerima dan masyarakat pertama yang ditemuinya tidak mengenal baca-tulis. Ini semua, dimaksudkan, agar mereka dan generasi berikutnya membacanya. Fungsi utama Al-Kitab adalah memberikan petunjuk. Hal ini tidak dapat terlaksana tanpa membaca dan memahaminya.

Dari celah-celah redaksinya ditemukan tiga bukti kebenarannya. Pertama, keindahan, keserasian, dan keseimbangan kata-katanya. Kata yaum yang berarti “ hari”, dalam bentuk tunggalnya terulang sebanyak 365 kali (ini sama dengan satu tahun), dalam bentuk jamak diulangi sebanyak 30 kali (ini sama dengan satu bulan). Sementara itu, kata yaum yang berarti “bulan” hanya terdapat 12 kali. Kata panas dan dingin masing-masing diulangi sebanyak empat kali, sementara dunia dan akhirat, hidup dan mati, setan dan malaikat, dan masih banyak yang lainnya, semuanya seimbang dalam jumlah yang serasi dengan tujuannya dan indah kedengarannya.

Kedua, pemberitaan gaib yang diungkapkannya. Awal surah Ar-Rum menegaskan kekalahan Romawi oleh Persia pada tahun 614: Setelah kekalahan, mereka akan menang dalam masa sembilan tahun di saat mana kaum mukminin akan bergembira. Dan itu benar adanya, tepat pada saat kegembiraan kaum Muslimin memenangkan Perang Badar pada 622, bangsa Romawi memperoleh kemenangan melawan Persia. Pemberitaannya tentang keselamatan badan Fir’aun yang tenggelam di laut Merah 3.200 tahun yang lalu, baru terbukti setelah muminya (badannya yang diawetkan) ditemukan oleh Loret di Wadi Al-Muluk Thaba, Mesir, pada 1896 dan dibuka pembalutnya oleh Eliot Smith 8 juli 1907. Maha benar Allah yang menyatakan kepada Fir’aun pada saat kematiannya: Hari ini Kuselamatkan badanmu supaya kamu menjadi pelajaran bagi generasi sesudahmu (QS 10:92).

Ketiga, isyarat-isyarat ilmiahnya sungguh mengagumkan ilmuwan masa kini, apalagi yang menyampaikannya adalah seorang ummi yang tidak pandai membaca dan menulis serta hidup di lingkungan masyarakat terbelakang. Bukti kebenaran (mukjizat) rasul-rasul Allah bersifat suprarasional. Hanya Muhammad yang datang membawa bukti rasional. Ketika masyarakatnya meminta bukti selainnya, Tuhan berpesan agar mereka mempelajari Al-Quran (lihat QS 29:50). Sungguh disayangkan bahwa tidak sedikit umat Islam dewasa ini bukan hanya tak pandai membaca Kitab Sucinya, tetapi juga tidak memfungsikannya, kecuali sebagai penangkal bahaya dan pembawa manfaat dengan cara-cara yang irasional.

Rupanya, umat generasi inilah antara lain yang termasuk diadukan oleh Nabi Muhammad: Wahai Tuhan, sesungguhnya umatku telah menjadikan Al-Quran sesuatu yang tidak dipedulikan (QS 25:30).

Tahap pertama untuk mengatasi kekurangan dan kesalahan di atas adalah meningkatkan kemampuan baca Al-Quran. Janganlah anak-anak kita disalahkan jika kelak di hari kemudian mereka pun mengadu kepada Allah, sebagaimana ditemukan dalam sebuah riwayat: “Wahai Tuhanku, aku menuntut keadilan-Mu terhadap perlakuan orang-tuaku yang aniaya ini.”

Semodern Apapun Zaman Buku Akan Tetap Menjadi Rujukan Terbaik


Akhir zaman di tandai salah satunya dengan diangkatnya ilmu. Maksud ilmu disini bisa saja para wali Allah seperti ulama, kiyai, tokoh, pemimpin adil dan sebaginya yang akan di angkat ke langit. Secara tidak langsung ilmunya juga terangkat. Lalu ilmu pengetahuan hadir sebagai pencerah kehidupan manusia dalam mewujudukan peradaban yang lebih baik, jika ilmu tidak ada maka kehidupan di dunia akan vakum dengan subjeknya yang tidak dapat mengembangkan apa yang ada di bumi.

Ilmu pengetahuan di dapat dengan berbagai cara salah satunya dengan 5 indera yang ada pada manusia. Ketika ilmu yang di dapat, pada prosesnya terdapat sesuatu kekuatan begitu luar biasa yang dapat menyimpan ilmu tersebut. Sehinggalah ilmu-ilmu terdahulu masih tetap ada dan dapat dipelajari hingga sekarang, yakni kekuatan ingatan. Ingatan semua orang relatif, pada zaman Rasulullah ingatan seseorang mayoritas lebih baik dan kuat ketimbang sekarang yang menjadi minoritas. 

Untuk itulah buku hadir sebagai pengimbang dalam kehidupan masa depan. Buku bukan saja karya tulis yang sekedar untuk di baca, tetapi juga memiliki peran yang sangat vital bahkan salah satu penyebab pengatur sebuah sistem dalam setiap waktu. Buku hadir mengajarkan manusia baca dan tulis, dengan kebiasaan itu semua hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, yang panjang terlampai, lama menjadi dekat dan semua berawal dari ilmu pengetahuan yang di aplikasikan ke dalam karya tulis (buku). Begitah sifat ilmu, selalu menghasilkan sesuatu ketika dikembangkan.

Hanya sekedar ingatan kita tidak mampu, kecuali mendapat kekuatan IQ khusus atas izin Allah seperti Abu Hurairah. Namun bagaimana jika ia telah tiada? Lalu baca tulis tidak dilakukannya? Maka yang terjadi adalah bom waktu yang siap menghancurkan generasinya.

Maka kembali lagi pada sejarah terbaik di dunia, yakni di zaman Rasulullah, sahabat, tabi'in dan seterusnya. Sebuah buku -bukan saja Al-Qur'an, buku lainnya juga- di kumpulkan menjadi satu dan puncak kesadaran tersebut terjadi dikala ketakutan orang-orang akan di angkatnya para wali Allah dan orang-orang alim yang berilmu. Tujuan kesadarannya juga agar ilmu tidak di angkat ke langit dan bisa diteruskan kepada generai berikutnya.

Begitu pentingnya buku di mata sejarah manusia, sehingga layak kita muliakan buku-buku ini. Bahkan karena bukulah internet hadir dan karena buku kita bisa membaca dan menulis di era serba digital sekarang.

Apa Hubungan Antara Hari Sumpah Pemuda Dengan Hari Bokek? Yuk Kita Intip Penjelasannya


Apakah teman-teman pernah mengalami bokek alias dompet tipis? Ya jawabannya tentu semua orang pasti pernah merasakannya karena tidak selamanya hidup ini berada di atas terus. Ketika berada di bawah, kita membayangkan saat itulah titik nadir hidup kita. Ada sebagian orang untuk enggan menceritakan kejadian tersebut karena gengsi, tidak ingin dikasihani, tidak ingin direpotkan dan lainnya. Namun ada juga yang senang mengumbar, justru ia mempertontokan ke orang-orang dengan cara beragam yakni dengan upload meme lucu, status dengan berpantun, puisi video bahkan lisanpun sanggup dikeluarkan tanpa paksaan.
Nah disini saya termasuk ciri-ciri orang seperti yang terakhir tersebut. Saya tidak malu untuk mengatakan yang sejujurnya, bahkan dengan kejujuran ini saya bisa di tolong dengan bantuan teman-teman. Tidak masalah mereka mengasiani karena hidup sosial itu tidak bisa hidup tanpa orang lain. Dogma inilah yang selalu yang pegang ketika dompet mulai mengikis.

Di atas udah dibahas kalau hidup ini akan berputar terus, ada yang di bawah dan di atas, untuk itulah jika kita berada di bawah mintaklah dengan yang di atas (teman yang mampu) nah begitu juga sebaliknya. Terkadang mereka yang tidak paham dengan siklus kehidupan manusia ini sulit untuk menerima kenyataan mereka harus di bawah dahulu. Terlebih hubungannya dengan Tuhan sangat jauh dari pada dengan kemudhratan.

Dalam kasus ini, hanya mengandalkan keyakinan dan dogma yang di pegang hidup akan berjalan aman. Yakni dogma siklus kehidupan manusia dan keyakinan akan keberhasilan tidak akan mengkhianati usaha. Hari ini ketika upaya-upaya yang dilakukan dengan harapan hasil maka jalan untuk mendapatkan uang itu akan berada di mana saja dan ia hadir tanpa diketahui. Inilah perlu ditanamkan pada generasi sekarang bahwa revolusi mental segera digalakkan. Jangan meremehkan hal kecil ini, justru hal-hal kecil berkontinue yang dapat merusak generasi bangsa lebih berbahaya dari pada hal besar walau hanya sekali.

Jika hal semacam ini terjadi terus menuerus, bisa-bisa akan merembes ke dalam tingkat keluaraga. Kehidupan akan goyah disaat mental jatuh dan akhirnya frustasi yang terjadi bunuh diri dimana-mana, merampok, lalu hidup sudah tidak jelas pengembangannya karena hutang-piutang, ketersedian makanan menipis, biaya tanggungan dan lain sebaginya.

Dengan semangat sumpah pemuda ini sebaiknya kaum muda lebih memprioritaskan berfikir secara irasional dengan memperdalam dan mencari tahu akan kondisi keuangan lalu mengembangkan teori yang difikirkan serta implentasikan hal-hal yang dikira inovatif. Jangan lagi berfikir secara estetik, hanya sebatas menikmati hidup ini dan mengatakan bahwa nikmati saja hidup ini. Buang pemikiran prikitif tersebut dengan mulailah memikirkan sesuatu yang berguna, paling tidak dengan berevolusi menjadi manusia yang unggul dalam segala bidang termasuk keuangan.

"Perubahan", Kalau Bukan Kita Siapa Lagi.

 

    Mungkin dalam hidup ini sangat sulit bagimu untuk mengembalikan sesuatu yang pernah kamu campakan, dan kamupun tidak akan pernah bisa untuk menerima sesuatu yang pada akhirnya membuat kamu dicampakkan. Terkadang kisah hidup ini tidak sesuai dengan harapan yang telah direncanakan. Hidup yang indah, menyenangkan, tenang, tentram, damai, bahkan bahagia. Semua itu hanya indah diangan-angan saja. Mampu menerima segala sesuatu yang terjadi, untuk sekali atau dua kali masalah yang kamu hadapi mungkin kamu bisa dengan lapang dada menerimanya. Setelah masalah itu selesai, namun ada dan ada lagi masalah yang harus diselesaikan. Yaaa….. semua itu sangat sesak di dalam dada. Semua itu seakan membuatmu merasa bahwa dunia ini tak adil buatmu. Lalu apa? Apa yang mampu membuatmu mendapatkan hal yang selalu kamu dambakan? Apakah dengan menangis semua akan iba dan datang kepadamu? Tidak! Tidak aka ada kebahagiaan yang datang pada orang yang hanya mampu pasrah. Hidup itu adalah pilihan, dan pilihan itulah yang menentukan nasibmu.

    Lalu langkah apa yang akan kamu ambil? Saya pernah membaca sebuah novel yang berjudul “berani mengubah”. Di dalam buku tersebut saya menjumpai sebuah kalimat yaitu “pada zaman sekarang banyak pemuda yang menuntut perubahan, namun tidak dapat menciptakan perubahan”. Dari kalimat tersebut saya mengambil sebuah kesimpulan, bahwa pemuda yang baik adalah pemuda yang mampu menciptakan sebuah perubahan. Baik pada dirinya sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Namun mirisnya pada zaman sekarang ini adalah, kebanyakan dari pemuda-pemuda Indonesia adalah pemuda yang menuntut perubahan. Sedang pada diri pemuda itu sendiri tidak ada keinginan untuk melakukan sebuah perubahan. Lalu sekarang, apa sih perubahan itu? Perubahan adalah peralihan ataupun pertukaran. Kamudian, perubahan apa yang dimaksud dalam hal ini? Ya, dalam hal ini saya memaksudkan perubahan pada pola pikir dan sikap pemuda-pemuda pada zaman sekarang. Apa sih yang harus dirubah dari sikap para pemuda zaman sekarang? Jadi, yang harus di ubah dari sikap pemuda zaman sekarang adalah sikap yang tidak bertanggung jawab, sikap yang tidak mampu menghargai orang lain, sikap yang tidak tahu etika dalam bertindak, dan sikap yang semakin parah karena pengaruh pergaulan.

    Sebenarnya, apabila disebutkan satu per satu, ada banyak sekali sikap-sikap pemuda zaman sekarang yang sangat meleset dari aturan dan hukum yang berlaku. Seperti contoh kecilnya yaitu, seorang anak yang menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan menggunakan tangan kiri. Itu baru contoh kecil yang masih bisa ditoleransi. Lalu apa lagi kenakalan para pemuda khususnya para remaja zaman sekarang? Saat ini sikap pemuda (remaja) yang sangat buruk adalah pada pergaulan bebas. Itu adalah contoh yang sangat sering terjadi pada zaman sekarang.

    Sebenarnya apa yang harus dilakukan oleh para pemuda agar dapat menciptakan perubahan? Langkah awal untuk menciptakan perubahan adalah harus adanya kesadaran pada diri sendiri. Apabila kita sudah mampu melakukan perubahan pada diri kita sendiri, maka akan mudah untuk kita menciptakan perubahan di kalangan para pemuda.

    Namun yang sangat di sayangkan adalah, etika dan kesadaran dari setiap individu itu sangat minim. Sehingga perubahan pada sikap dan pola pikir para pemuda sangat sulit untuk dilakukan. Kebanyakan pemuda pada zaman sekarang adalah pemuda yang hanya memikirkan kepuasan sesaat, tanpa adanya keinginan untuk memikirkan masa yang akan datang/masa depan. Seperti yang kita ketahui, nasib suatu bangsa tergantung pada pemuda-pemudanya, apabila pemuda bangsa itu rusak, maka bangsa itu sendiripun akan rusak. Namun, apabila pemuda bangsa itu adalah pemuda yang bertanggung jawab dan peduli akan perubahan, maka akan majulah bangsa tersebut.

    Jadi kesimpulannya adalah, perubahan yang baik akan membawa kita menjadi pemuda yang baik. Namun perubahan yang buruk, akan merusak masa depan dan hidup kita.

“Mari kita laksanakan perubahan pada diri kita, bukan untuk merusak masa depan, namun menjadikan masa depan yang cemerlang.”






Penulis : Mutya Dwieningtyas (Siswi SMA 4 Binaan)

Sukses Karena Kuliah Banyak Tetapi Yang Tidak Sedikit


Pendidikan adalah salau satu indikator dalam menciptakan sumber manusia yang berkualitas, serta berdaya saing dan pribadi yang unggul. Sistem pendidikan yang buruk akan berubah menjadi bom waktu bagi sekolah, kampus, daerah hingga bangsanya jika tanpa sedikitpun melakukan perubahan dalam tatanannya. 

Realita yang ada pendidikan di indonesia sekarang telah berevolusi dari berbagai aspek. Seperti kurikulumnya, status negeri, kualifikasi tenaga ahli, hingga prestasi di semua level adalah contoh yang telah megalami evolusi. Itulah keberhasilam pemerintahan kita dalam kurun 20 tahun terakhir.

Pendidikan patut disinggung akan eksitensinya pada masyarakat indonesia. Dalam hal tersebut pendidikan menjadi pemeran utama dalam setiap kegiatan di masyarakat. Akan tetapi masyarakat menyikapi pendidikan perguruan tinggi bukanlah salah satu syarat mutlak untuk menjadi sukses. Mereka berpandangan pendidikan perguruan tinggi hanya sebagai penunjang, pendidikan dibawahnya barulah syarat mutlak untuk menjadi orang sukses. Contoh ijazah SMA dan sejenisnya dijadikan syarat bagi orang tua demi mendapatkan pekerjaann anaknya, tetapi melanjutkan ke bangku kuliah hanya sebagai pilihan mereka. Mereka meyakini dan percaya, rentan 12 tahun sudah lebih dari cukup untuk dilepaskan untuk mengarungi hidup.

Lebih parahnya lagi, ungkapan "sukses merupakan tujuan hidup seseorang tanpa dipengaruhi oleh pendidikan, garis tangan kita pada hakekatnya sudah di tentukan jadi tidak perlu sekolah atau kuliah lagi. Lihat saja pengusaha sukses, pendidikannya hanya tamat SD".

Diluar konteks pemasalahan seperti kedaan ekonomi yang menimpa, ketidakmampuan daya serap, permasalahan keluarga serta minimnya hasrat untuk melanjutkan kuliah. Sebenarnya harus digalakkan dengan sebuah dorongan mental demi melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, dan kewajiban tersebut adalah tugasnya pemerintah. Melakukan manuver-manuver yang tepat dimana sasarannya mereka adalah orang yang cenderung berfikir pendidikan perguruan tinggi terebut tidaklah penting.

Tidak mudah untuk menjadi seorang sarjana. Namun menjadi seorang sarjana adalah suatu keharusan di abad ini. Teknologi semakin maju, ilmu terus berubah, pantangan adat menjadi kenangan, bahasa mengalami pelebaran dan semuanya mengalami perubahan. Menjadikan isyarat bahwa lulusan tingkat SMA tidak akan bisa menyesuaikan diri seiring perkembangan dunia semakin membutuhkan skill dari setiap individu. Kebanyakan masyarakat indonesia, tuntutan zaman seperti di atas tanpa sedikit pun tersugesti langsung untuk berubah dari cara berpandangan tersebut.

Adapun pola pikir primitif semacam ini dilihat sudah hilang secara perlahan, akar permasalahannya pemerintah telah temukan titik terang. Namun hanya ada di kota-kota besar dengan pengaruh lingkungan pendidikan yang baik dengan sistem yang terstruktur pada sekitarnya. Untuk di kota berkembang rasanya tidak, malah pola fikir tersebut makin bertambah.

Keterlambatan pola fikir semacam ini kemudian hari akan menjadi pemicu bangsa indonesia lamban dalam hal menciptakan SDM yang berkualitas. Lihat negeri jiran Malaysia, dengan sistem pendidikan yang terintegrasi menjadikan mereka optimis menjadi negara maju pada tahun 2020. Indonesia kapan? Yang saya ketahui targetnya 2025. Jauh sekali? Wajar, mengelola rakyat yang banyak dengan beragam permasalahan begitu sulit ketimbang mengelola rakyat yang sedikit.

Tetapi apakah target tersebut bisa tercapai dengan tingkat kesadaran pendidikan perguruan tinggi yang masih rendah di daerah lingkungan perdesaan? Pesimis dikalangan akademisi mulai mengintai, rakyat kritis mulai mempetanyakan peran parlemen, pemerintah di anggap tidak optimal dalam implementasinya.

Mengkritisi Persoalan Politik Indonesia Terhadap Potensi Anak Muda


Patut di apresiasikan sekali ketika di tengah kekaguman rakyat akan seseorang yang dipandang integritasnya melebihi kandidat lain dalam pemilihan kepala daerah atau atau pun pemilihan presiden. Munculnya muka baru yang katakanlah bersih dan jernih dari intrik-intrik kotor dari bekas masa lalunya, apa lagi para anak muda tersebut bertolak dari latar belakang yang berbeda lalu berhasrat mengabdi pada negara dan bangsa melalui jalur politik. Sudah banyak contoh potensi anak muda yang unjuk gigi di perpolitikan tanah air bahkan dunia, untuk di indonesia sendiri mungkin sudah banyak yang mengenal Anis Baswedan (calon pilgub DKI Jakarta 2017) , lalu Anis mata (presiden PKS), serta tak ketinggalan Tifatul Sembiring (mantan menkoinfo), Imam Nahrowi (menpora) lalu yang menoreh di kelas dunia kita pun punya seorang mantan menteri luar negeri yakni Marty Natalegawa.

Mereka ini memiliki backgorund yang berbeda dan kualifikasi yang dimiliki tidaklah sama, namun kehebatan skill masing-masing di sandingkan dengan keberanian mereka untuk ikut terjun politik yang selama ini hanya di isi oleh orang-orang yang berkirsar 50-an tahun ke atas sungguh hal yang sangat baik untuk diikuti. Dari sisi agama umur di bawah 50 tahun apalagi mendekati 40 tahun, adalah puncak dari kematangan pola fikir berproduktif sebagaimana kepercayaan umat islam yang di alami oleh nabi Muhammad Saw.

Sebenarnya, ini adalah sebuah terobosan yang baik sekali dalam dinamika perpolitikan di indonesia yang selalu di isi oleh para politikus senior. Memang, pengalaman adalah hal penunjang dalam berpolitik agar bisa dikatakan politikus ulung. Namun ketika bermanuver dalam perhelatan politik indonesia, politikus senior cenderung mempunyai misi ganda bahkan lebih dalam merebut kekuasaan tersebut. Katakanlah mereka telah menjadi anggota dewan pada periode sebelumnya, ketika mencalonkan yang berikutnya bahkan yang ke seterusnya cenderung mempunyai ambisi lebih dari mengabdi kepada negara. Lebih disini dalam arti negatif, seperti mementingkan suatu golongan, individu, sanak keluarga dan teman karib yang telah membantunya pasca dilantiknya menjadi dewan atau jabatan tertentu lainnya.

Seyogyanya kita berfikir bahwa politik indonesia sampai hari ini masih membangun dogma primitif, yakni kekuasaan diperalat menjadi tujuan hidup demi kesuksesan yang di anggapnya. Dogma ini akan terus berkembang jika sistem politik indonesia tidak pernah dibahas dengan serius untuk di rubah pengelolaanya, walau SDM yang berkualitas selalu bermunculan namun ketika permasalahan yang di anggap lumrah ini di tutup dengan sebelah mata, maka mereka salah satu bagian dari bandit-bandit serakah akan kekuasan, walau dengan berdalih kepentingan lain juga patut di rumuskan.

Momentum Untuk Anak Muda yang Kritis Terhadap Perpolitikan di Indonesia

Angin segar dibawa melalui partai demokrat untuk kalangan anak muda yang berhawakan semangat dan berselimut kegalauan politik buruk indonesia, belakangan ini anak muda dinilai tidak fokus terhadap politik contohnya saja dalam hal memilih pemimpin. Beda ceritanya dengan pemuda/i yang aktif dan pasif pada pentas perpolitik tanah air, politik seakan sarapan pagi bagi mereka yang bernotabane mereka dari golongan aktivis dari kampus. Namun mereka yang khususnya mahasiswa diluar konteks politik, agaknya mulai terikut arus karena suatu terobosan besar yang tidak di duga oleh para pengamat tanah air terhadap yang dilakukan oleh ahli startegi dari cikeas. Walau tidak eksklusif mengikutinya namun pengetahuan akan dunia politik di domisilinya memberikan sinyal bahwa pemuda indoesia kini telah sadar dengan pentingnya untuk individu dan keluarga dalam menumbuh-kembangkan politik secara nasional maupun lokal. Sehingga hal-hal positif seperti memotivasi kaum muda dalam berpolitik mengurusi negeri, lambat laun akan muncul seiring menariknya perpolitikan sekarang. Lalu mengurangi golput juga suatu keharusan, dan tak ketinggalan lahirnya pemuda/i dalam pentas politik indonesia.

Refleksi Sejarah Reformasi Bangsa Indonesia
Indonesia telah melakukan perubahan besar yang terjadi pada tahun 1998, artinya bangsa ini telah berumur 17 tahun dalam hal mereformasi ketatanegaraan indonesia. Dengan usia semuran jagung kita masih perlu beberapa tahun lagi untuk menjadi negara yang benar-benar menganut paham demokrasi. Lihat amerika, butuh ratusan tahun agar bangsanya menjadi negara demokrasi yang sesuai dengan kriteria adat istiadat, keberagaman suku ras agamanya. Banyak perubahan-perubahan selama ratusan tahun tersebut sehingga telah mengalami 14 kali amandemen pada era rekontruksi, dampak dari perubahan / terobosan seperti ini hasil akhirnya menemukan suatu sistem yang tepat di wilayah itu sendiri.

Ketika reformasi pada tahun 1998, kita rakyat indonesia telah terlepas dari sistem orde lama yang bertemabesarkan tentang kekuasan di pergunakan untuk kepentingan sendiri serta keluarga, rakyat dan negara belakangan untuk difikirkan. Pada masa presiden Soeharto memang banyak sekali pembangunan yang diwujudkannya, maka wajar ia populer dengan sebutan bapak pembangunan, namun terlepas itu berapa banyak kasus korupsi yang diduga pemain tunggalnya ia sendiri bahkan anaknya yang sampai sekarang belum juga tuntas. Jadi, disini selain tugas jadi presiden dalam hal mengatur negara, hal pribadi dan keluarga telah menjadi nomor satu dalam segala hal dan kebijakannya.

Alhasil tepat sekali ketika Prof. Amien Rais beserta kawan-kawan pada waktu itu berhasrat untuk merubah bentuk ketataegaraan bangsa indonesia ke arah yang lebih demokratis dan sosial. Beberapa kebijakan yang jitu terbukti telah menghancurkan sistem lama yang sangat buruk tersebut. Salah satunya ialah membatasi periode presiden menjadi 2 priode dimana setiap priode berjarak hanya 5 tahun. Serta hierarki lembaga sekarang menjadi horizontal tidak seperti dahulu vertikal. Pemimpin tertinggi bukan lagi lembaga MPR, semuanya sejajar tetapi saling mengawasi.

Politik Itu Citra dan Strategi Berada di Dalamnya

Keberanian SBY mengusung anaknya juga tidak terlepas dari kemampuan Agus itu sendiri, melihat sisi akademisnya ia merupakan orang yang selalu berada di posisi terdepan maka inteletualnya tidak diragukan lagi apalagi di bidang militer. Dengan dasar seperti ini boleh jadi ketika berhadapan pesaingnya di panggung politik, sisi intelektual Agus akan semakin melejit seiring jiwa mudanya terus membakar rasa keraguan orang lain terhadapnya.

Berbicara masa depan maka hanya teoritis saja yang di ulas, perkembangan dan kejayan peran kaum muda belumlah meroket dengan para kaum senior. Namun contoh kongkrit dari peran kaum muda bisa dilihat dari kiprah Dr. Raden Marty Natalegawa tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi itu diambil lewat voting, dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunyanya.

Mungkin menurut kita itu bukan idenya karena boleh jadi ada desakan desakan dari golongan tertentu, namun terlepas dari itu semua saya yakin dan percaya bahwa sifat anak muda -apa lagi ketika dia merasa yang paling muda di suatu forum- yakni berani mengambil sesuatu yang spektakuler namun terkesan inapiratif berbalut solusi, ketimbang para senior dengan kebijakannya seperti biasa pada sebelumnya dan cenderung monoton. Jadi saya pikir hidup ini penuh yang namanya terobosan. Kemudian dengan fenomena terjunnya anak muda ke panggung politik khususnya di pilgub DKI Jakarta 2017 mengisyaratkan momentum akan terwujudnya budaya reformasi politik yang baru, dimana kedepannya di dapatkan suatu sistem politik yang bersih, aman, tidak ada praktek ilegal dan secara definitif di sahkan sebagai landasan baru dalam berpacu di kancah politik indonesia.

Seperti sesuatu momentun akan bertumbuh-kembangnya perpolitikan indonesia menjadi lebih baik. Dimana anak muda yang hari ini secara aktif akan berdampak pada masa 20 ke depan, ketika itu mereka yang hebat di generasinya beralih posisi dari politisi menjadi pengamat atau akademis politik. Siklus seperti di atas sebenarnya harus difikirkan sejak sekarang, dan sangat mutlak bila selama ini politik indonesia cenderung di anggap buruk oleh kalangan ekonom, akademisi, para dokter, pengamat, pedagang, nelayan dan lain sebagainya akibat perencanaan yang kurang tepat. Lalu, bukan hanya sistem suatu program dari perpolitikan itu saja di bentuk dan dikembangkan oleh generasi penerus, tetapi juga wadah -politik indonesia- juga patut di sadari sebagai subyek yang ia juga tak luput dijadikan bahan riset untuk berangkatnya indonesia menuju generasi emas. Serta bukan hal yang tidak mungkin generasi muda yang tergolong minim dalam dunia politik ini bisa familiar dengan konsep politik seiring semaraknya pertunjukkan politik yang di bangun.

Meski saya mendukung adanya kaum muda berpolitik, namun tidak secara berbondong-bondong, sebab khawatir aspek lain juga membutuhkan peran kaum muda. Saya sangat mendukung sekali ketika para kaum muda digalakkan untuk berbisnis. Terlalu banyaknya politikus dan birokrat boleh jadi dengan di tambahnya pemikiran primitif bangsa indonesia akan lambat untuk maju akibat birokrasi yang berbelit yang berpunca dari jatah setiap pintu.

Bisnis dalam arti berdagang berkaitan erat dengan berpolitik, 2 hal ini selama ada makhluk maka akan berjalan. Namun yang lebih utama penerapan yang begitu penting ketimbang salah satunya adalah berbisnis. Bukankah dengan perekonomian yang stabil maka politikpun akan adem, jika sebaliknya maka bisa saja politik tersebut tidak ada pergerakan yang memadai hanya berada di zona aman.

Membangkitkan Peran Media Penerangan Secara Tepat Dalam Mendorong Semangat Budaya Literasi Di Masyarakat


*Tulisan ini adalah bagian dari kegiatan lomba esai dengan tema meningkatkan budaya literasi

A. ABSTRAK 
Membangun budaya literasi dalam konteks agama sangat di anjurkan sekali, karena Nabi Muhammad saja dalam sejarah umat muslim ketika mendapatkan wahyu yang pertama bukanlah mendengar yang ia lakukan, tetapi membaca surah Al-Alaq ketika malaikat jibril menyuruhnya. Selain membaca, menulis juga adalah bagian dari pengertian literasi. Ketika para pemuka ulama dahulu tidak melakukan budaya literasi boleh jadi ilmu apa yang kita dapati sekarang –bacaan sholat, mengaji yang baik, bacaan doa khusus, dll- belum tentu sama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah terhadap sahabat dan para pengikutnya.

Memasuki ke abad 21, masyarakat sekarang cenderung menginginkan segala sesuatu yang bersifat instan, sehingga sifat mentalitas yang praktis tersebut membuat budaya literasi seolah menjadi tantangan yang berat dengan menilainya sebagai sesuatu yang memiliki prosedur, formal, serta sulit untuk dilaksanakan.

B. ISI
melakukan budaya literasi adalah organ terpenting dalam menciptakan masyarakat yang berilmu, lebih spesifikinya lagi seseorang yang melaksanakan budaya tersebut dapat menuju manusia yang berkepribadian unggul contohnya berfikir kritis terhadap permasalahan yang ditemukan, dapat menemukan solusi, dan juga tentunya sebagai media dalam menyampaikan informasi seluas-luasnya kepada khalayak umum.

Sekarang ini masyarakat disibukkan dengan kehidupannya yang tanpa sedikitpun pengetahuan didapati dari budaya literasi. Karena mereka pada umunya masih menggangap bahwa budaya turun temurun sudah lebih cukup mutakhir ketimbang mencari ilmu dengan membaca buku di perpustakaan. Syukur masyarakat sekarang masih ada yang semangat membaca secara online, dari pada yang sama sekali tidak, dan enggan mengunjungi perpustakaan?

Tulisan ini mengangkat judul “Membangkitkan Peran Media Penerangan Secara Tepat Dalam Mendorong Semangat Budaya Literasi Di Masyarakat” , Makna judul di atas bukanlah membangkitkan media penerangan yang dimiliki instansi penerangan terkait seperti TNI, POLRI, dan instansi lainnya dalam hal menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan berita yang panjang atau imbauan yang penuh dengan peraturan. Namun dalam arti yang lebih kecil, yakni menyampaikann pesan-pesan budaya literasi melalui dua jurus jitu yang sampai saat ini belum di optimalkan.

a) Reklame
Kecendrungan masyarakat Indonesia dalam hal membedakan antara pengertian reklame dan pengertian iklan membuat para pegiat pembaharuan literasi harus bekerja ekstra keras. Pasalnya bukan masalah seperti di atasnya saja masyarakat salah kaprah dalam memaknai suatu kata. Contohnya di daerah Kabupaten Karimun, ramai masyarakat Karimun khususnya para pemuda-pemudi yang menilai bahwa kata “honda” adalah sama seperti “sepeda motor”. Padahal “Honda” adalah merek/jenis dari sepeda motor itu sendiri, belum lagi dengan popok bayi yang disamakan dengan “pampers” yang seharusnya nama tersebut adalah sebuah nama jenis barang yang diproduksi oleh perusahaan indonesia

Budaya semacam ini sepertinya telah menjalar hingga ke anak-anak kecil dan juga tak kalah hebatnya kaum dewasa juga telah menggunakan kata-kata seperti di atas. Biarlah kata “kami” yang dalam konotasi bahasa melayu mengandung unsur “saya” namun lebih dari satu sebenarnya, digunakan oleh masyarakat Karimun karena menganggap bahwa ungkapan tersebut lebih terkesan sopan, dan halus apa lagi ketika berinteraksi kepada orang lebih tua darinya. Lalu jangan sampai kata-kata yang berikutnya menjalar menjadi bermakna plural sehingga yang menangkapnya berbeda adanya akibat golongan dan status sosial yang berkotak-kotak.

Terarahnya Pesan Reklame Membawa Angin Segar
Reklame juga ada kata-kata yang termasuk ke dalam kategori semboyan atau motto, bukan saja kata untuk mengajak dan melarang tetapi ada juga kata yang bertujuan untuk menyemangati orang lain.
Sejak perkembangannya ilmu psikologi manusia telah di perkenalkan dengan permainan kata-kata dalam hal menghibur diri secara pribadi terlebih untuk memotivasi diri sendiri, hal tersebut sering dikatakan dengan motto hidup. Motto memiliki peran yang sangat berarti dalam perjalanan manusia menuju kehidupan dunia lain, dengan adanya kata-kata yang  tersusun sedemikian menarik, heroik dan terkadang mengunggah jiwa hingga menuruti kata tersebut, tidak sedikit manusia sampai hari ini sukses dengan tetap teguh memegang semangat motto hidupnya tersebut. Lalu, tidak diragukan lagi bahwa motto tersebut bukan hanya sekedar pajangan dalam dinding rumah, yang secara sekilas hanya untuk di baca, sesungguhnya ia memiliki makna yang begitu besar bagi sang pemilik rumah.
Bila ditinjau dari etimologinya, reklame dan iklan mempunyai makna yang setara. Iklan dari kata I’lan (bahasa Arab) berarti seruan yang berulang. Maka kedua istilah yang terkait dengan media periklanan ini mengandung makna yang setara yaitu untuk kegiatan penyampaian inrformasi kepada masyarakat atau khalayak umum.

Melebihi Dari Mengajak dan Melebih Dari Menakuti
Dari data empiris yang ada, pelaku yang meletakkan iklan di papan reklame mayoritas di dominasi oleh pemerintah bukan masyarat yang memiliki bisnis untuk di pajang produknya di papan reklame. Berbagai instansi memiliki papan pengumuman, himbauan atau informasi yang terletak khusus dan sudah di atur oleh dinas yang terkait, serta lokasi yang diletakkan pun harus strategis. Mari kita papan reklame besar yang berjejeran rapi di simpang tiga RSUD Poros, Kapling, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun. Sedikit sekali yang ingin meletakkan iklan yang bertemakan menghidupkan budaya literasi. Jangankan untuk menggalakan hal ini, untuk memasarkan produknya saja pengusaha masih enggan, sebab mereka tahu bahwa budaya membaca tidak begitu tinggi di Kabupaten Karimun.
Adanya papan reklame adalah angin segar bagi dunia literasi, budaya melihat, membaca akan tersaji di suatu daerah. Dalam menyampaikan pesan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya dengan media menulis bisa disejajarkan dengan media lisan, walau budaya literasi belum optimal diterapkan. Nah, dengan terstrukturnya pesan-pesan yang disampaikan bukan tidak mungkin budaya lisan tersebut lambat laun berubah menjadi budaya menulis dalam hal menyampaikan informasi yang luasnya. Hal ini dapat terwujud jika dalam papan reklame di tampilkan “frasa” yang lebih mendalam dari segi manfaat budaya literasi, resiko buruknya jika tidak membangun budaya literasi secara gamblang, dan bentuk pemaparannya juga secara eksklusif menuju tepat ke intinya. Bahkan kalau bisa terkesan menakuti masyarakat bila hal ini di indahkan.

Kenapa sampai begitu ekstrim? Menakut nakuti masa depan bangsa ini ke pada masyarakat. Seyogyanya literasi adalah gerbang pembuka bagi terbangunnya generasi penerus pembangunan bangsa, jadi mau tidak mau suka tidak suka jalan kita hanyalah memaksa masyarakat, dengan bentuk menakuti mereka.

Contohnya iklan yang ada pada bungkus rokok “Rokok dapat menyebabkan gangguan serangan jantung, hipotermia, gangguan pada wanita hamil, dan sebagainya” kata-kata seperti ini lebih baik dari pada hanya dengan kata-kata yang maksud melarang rokok tapi tidak mendekat ke arah penyakitnya, hanya bersifat umum saja. Sekarang tema membangun karakter bangsa dengan budaya literasi, seperti “Buku adalah jendela ilmu” saya rasa belum cukup efektif, lebih baiknya dengan kata “Enggan membaca kebodohan yang didapati”

Maka pesan-pesan yang disampaikan langsung terpatri ke dalam benak masyarakat. Dalam ilmu psikologi, bahwa sesuatu yang menarik untuk dipandang –juga dibaca- akan membawa perubahan dalam pola fikir mereka. Bukan hal mustahil bila dari salah satu pembaca papan reklame akan memilik hasrat untuk mewujudkan seperti kata-kata yang ada di papan reklame tersebut. Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Karimun. Penulis menilai bahwa dengan keberhasilan Kabid Humas Pemkab Karimun dalam mengelola media penerangan seperti slogan yang terpasang di papan reklame, membawa porubahan yang begitu besar. Terbukti dengan di raihnya piala adipura oleh kabupaten karimun, adalah berkat kerja keras dari Pemerintah Kabupaten Karimun dalam mensosialisasikan akan pentingnya Sabtu Bersih. Semboyan yang digalakkan oleh Bupati Karimun, H. Anur Rafiq, S.Sos, M.Si.

b) Slogan
Slogan terambil dari kata dari istilah dalam bahasa Gaelik, sluagh-ghairm, yang berarti "teriakan bertempur". Sama seperti motto, slogan pun dapat menjadi sebuah motto alternatif bagi orang khusus yakni mereka yang belum kenal dengan dunia literasi dan belum secara mendalam. Melihat perkembangan dunia yang begitu pesat dan serba canggih, membuat slogan amat dibutuhkan. Dimana saja perlu yang namanya slogan, di lingkungan perusahaan, perkantoran, organisasi dan lain-lain. Di manapun slogan berada tentunya mempunyai misi yang ingin di sampaikan dari sang pembuat, namu saat ini slogan sudah seperti tulisan kotor yang terpajang di tempat yang di perselisihkan. Contohnya tempat pembuangan sampah. Walau sudah di himbau untuk tidak membawa sampah di sini, namun tetap saja di indahkan oleh pembuang. Hal ini menjadi salah satu biang dalam menetapkan slogan yang berujung konflik yang mangandung unsur SARA.  Yakni seperti – maaf jika terlalu lancang. “Anjing yang membuang sampah di sini”.

Menurut saya sebaiknya slogan dengan kata yang sopan namun terkesan mendidik ke dalam agama “Alam akan marah jika sembarangan membuang sampah. Ingat!! Bencana di depan mata anda.” Memang, jika difikir-fikir mereka akan tetap membuangnya tapi apakah makna slogan yang sopan di atas bertahan lama di benak mereka dibanding dengan slogan yang bergaya kasar? Tentu iya, dan lambat laun mereka pastinya sadar sendiri, terlebih bencana benar terjadi di hadapannya.
Kini saatnya merevolusi bangsa kita dalam budaya literasi, budaya yang lama itu adalah metode kuno yang sudah bukan lagi dizamannya. Sekarang eranya beretrorika dalam hal apa pun, hanya dengan permainan kata orang bisa terpengaruh.

Tidak Ada lagi Toleransi Terhadap Makna Pada Slogan
Setali tiga uang, slogan juga selayaknya dipandang sebagai ungkapan yang langsung mengenai hati pembaca, bukan kata-kata yang bertele-tele dan masih memiliki gaya lama mengikuti kata-kata trend dulu. Seharusnya memiliki variasi khusus dan tidak disamakan dengan pengaruh zaman modern ini sehingga tidak dikatakan lebay oleh para kaum muda.

Langsung saja ke contohnya, yakni “Jika ingin terkenal membacalah“ penggunaan bahasa yang tepat dapat membuat masyarakat terpengaruh dengan isi slogan tersebut. Walau dalam konteks agama salah karena ingin terkenal, tetapi bila rutin membaca bahkan menulis apa lagi, bukan tidak mungkin ia bisa mendikte sendiri bahwa slogan yang di temukan salah. Dan benar bahwa itu salah, bagi masyarakat yang menyadarinya berarti masih termasuk dalam orang yang terpelajar. Dari sini kita bisa lihat respon dari mereka, dan perbedaan dari yang apatis dan kritis akan terlihat.

Kemudian, semboyan-semboyan yang membangkitkan semangat membaca dan menulis, lalu juga bahaya bila tidak menerapkan budaya literasi boleh jadi akan menjelma sebuah ketakutan yang tidak ingin di rasakan. Seperti “Tidak Membaca sesat di jalan. Malu menulis goyah fikiran” Rasanya pesan yang harus di sampaikan dalam hal menakuti bukan lagi dengan maksud untuk “Mencegah” tetapi dengan maksud “Menghilangkan”. Hilangkan kebiasaan apatis mereka, tumbuhkan semangat keingintahuannya setelah melihat tulisan semacam tadi.

Contoh kata slogan yang mencegah “Ilmu adalah jendela dunia“ dengan kata jendela dunia dapat di indikasikan ia bermakna pengetahuan besar untuk mengetahui semuanya. Namun apakah masyarakat awan bisa menerima dengan akalnya? Alhasil, tulisan yang kurang eksklusif seperti ini bisa-bisa di sepelekan oleh para pembaca.

C. PENUTUP
Sebenarnya untuk menyampaikan penerangan kepada masyarkat dapat digunakan lebih dari media slogan dan papan reklame seperti radio, televise, film dan pers. Tapi yang lebih dimudah dalam pelaksaannya dan memakan waktu dan biaya yang tidak begitu lama dan besar adalah media yang di ulas di atas. Mengingat metode pendekatan hanya bisa diterapkan di dua media tersebut, bayangkan jika di televis semboyan untuk membangun budaya literasi di tampilkan. Apakah akan bertahan lama? Lalu bagaimana dengan iklan yang sudah menunggu jauh hari. Jadi media ini masih ada ketergantungan bisnis dalam menghidupi medianya ke depan, sedangkan tujuan pegiat literasi adalah murni bukan untuk sambilan berbisnis.

Dalam kesempatan ini saya sangat berterimakasih kepada pihak penyelenggara terutama dinas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau. Harapan saya dengan adanya program yang bertemakan “Membangun Karakter Bangsa melalui Budaya Literasi” dapat membantu mahasiswa/i kita (KEPRI) untuk bersaing dalam membentuk Mahasiswa yang kreatif, inovatif serta mampu membangun dan mengembangkan budaya Literasi terhadap masyrakat luas, Jadi semoga tahun depan digalakkan kembali dan bukan hanya sampai disini saja –ketika telah menemukan program yang tepat- tapi juga terus dan berkelanjutan.

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat di simpulkan bahwa perlu adanya sebuah reformasi dalam hal penyampaian maksud melalui media reklame dan slogan, yakni lebih tepat ke inti permasalahannya serta tidak lagi memakai kata-kata lama yang sudah terlanjur masyarakat pahami sebagai angin lalu. Semoga dengan adanya karya ini bisa menumbuhkan sebuah gerakan yang bisa mengobati penyakit sosial dan berbagai penyakit lainnya. Mungkin banyak cara lain selain ini, namun hanya Tuhanlah yang menentukannya, kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan berusaha untuk yang terbaik.
Demikian karya saya yang khusus dipersembahkan untuk panitia dalam memenuhi Lomba Menulis Esai untuk Mahasiswa Se-Provinsi Kepulauan Riau, serta juga untuk menunaikan hak saya sebagai seorang penulis pemula. Dimana saat ini saya juga tengah membangun sebuah wadah untuk mahasiswa karimun dalam hal meningkatkan budaya literasi di lingkungan mahasiswa Kabupaten Karimun melalui blog saya Irudnews.blogspot.com.

Akhir kata tidak ada gading yang tidak retak, dan tidak ada kata sempurna kecuali hanya milik-Nya. Kesalahan dalam penulisan, baik itu bahasanya dan bentuk pedoman penulisan harap dimaklumi karena saya hanyalah manusia biasa.


Merobohkan Budaya Mahasiswa Apatis Terhadap Hukum (Mahkamah Konstitusi)


Pernahkah kita melihat lembaga-lembaga di indonesia ini berselisih lalu mendatangi ke gedung MK?? Pasti pernah, nah dalam kasus tersebut apa sebenarnya yang di perselisihkan? Kenapa harus mengadu kepada MK? kenapa tidak diselesaikan secara politik?

Jawabannya, disebabkan oleh sistem ketatanegaraan yang diadopsi Indonesia dalam ketentuan UUD 1945 sesudah perubahan pertama(1999), Kedua (2000), Ketiga (2001), dan keempat (2002), mekanisme hubungan antarlembaga negara bersifat horizontal, tidak lagi bersifat vertikal. Sekarang tidak ada lembaga tertinggi negara seperti yang kita ketahui sebelumnya. MPR bukan lagi lembaga yang paling tinggi kedudukannya dalam bangunan struktur ketatanegaraan Indonesia, melainkan sederajat dengan lembaga-lembaga konstitusional lainnya, yaitu Presiden, DPR, DPD, MK, MA, dan BPK.

Hubungan antar lembaga diikat oleh prinsip checks and balances, dimana diakui sederajat tetapi saling mengendalikan satu sama lain. Karena sederajat timbul kemungkinan dalam pelaksanaan kewenangan masing-masing terdapat perselisihan dalam menafsirkan amanat UUD.

Jika timbul persengketaan pendapat semacam itu, maka diperlukan organ yang mengatur untuk memutuskan final atas hal tersebut. Yakni melalui proses peradilan tata negara yanv bernama Mahkamah Konstitusi.

Secara definitif, maksud dari sengketa kewenangan antarlembaga negara ialah perbedaan pendapat yang disertai persengketaan dan klaim antar lembaga negara mengenai kewenangan konstitusionalnya yang dimiliki oleh masing-masing lembaga negara tersebut.

Selain memutuskan perkara dalam sengketa kewenangan antar lembaga, MK juga berfungsi sebagai tempat mengadu bagi siapa saja selama ia warga negara indonesia terhadap undang-undang yang tidak relevan dan bermasalah dalam pelaksanaannya oleh lembaga yang terkait. Hal tersebut dinamakan pengujian materi undang-undang.

Cara penyelesaiannya dengan memberikan solusi hukum selama dipersidangan, sebab MK seyogyanya sebagai lembaga yang merdeka dari siapa saja -tidak boleh ada pihak yang mengintervensi- untuk menegakkan hukum dan keadilan di tingkat lembaga.

Melihat posisi maka Mahkamah Konstitusi ini posisinya unik. MPR yang menetapkan UUD sedangkan MK yang mengawalnya. DPR yang membentuk UU, tetapi MK yang membatalkannya jika terbukti bertentangan dengan UUD. MA mengadili semua perkara pelanggaran hukum di bawah UUD, sedangkan MK mengadili perkara pelanggaran UUD. Jika DPR ingin mengajukam tuntutan pemberhentian terhadap presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya, maka sebelum diajukan ke MPR untuk diambil keputusan, tuntutan tersebut diajukan dulu ke MK untuk pembuktiannya secara hukum.

Bahaya : Tertular Oleh Rasa Pesimis Mahasiswa Lain



Kurang percaya diri adalah suatu hal yang harus di hilangkan bagi seorang mahasiswa, salah satu penujang untuk berkarir di dunia kerja maka rasa kepercayaan yang tinggi perlu di galakkan sejak berada di lingkungan kampus. Rasa percaya diri bukan hanya seperti berani berdiri di depan lalu berbicara dihadapan puluhan bahkan ratusan orang, tetapi juga rasa percaya diri terhadap apa yang ingin kita lakukan, lebih tepatnya rasa optimisme.

Optimsme mahasiswa didapatkan ketika proses yang ia lalui sebelumnya, belajar dari pengalaman diri sendiri dan kesalahan orang lain. Terlepas itu ada juga dari pembawaan kharakter yang bisa di dapat melalui lingkungan rumah atau pengaruh gen orangtuanya. 

Optimisme akan terlahir ketika semangat mengebu-ngebu untuk menginginkan sesuatu, lalu ketika di arahkan kepada orang sekelilingnya rasa optimis itu sendiri akan semakin meningkat seiring dukungan orang sekitar.

Nah, jiwa-jiwa optimisme seperti harus banyak di lahirkan dan tularkan kepada mahasiswa lain. Sebagai mahasiswa kritis, tentunya mereka tidak hanya memikirkan persoalan kampus, birokrasi daerah, serta politik nasional semata. Tetapi juga teman yang dianggap 1 angkatan ataupun 1 almamater perlu di ulas juga karena rasa kepedulian tadi lahir terhadap besar kecilnya dogma kritis yang dianut.

Sangat disayangkan ketika agenda-agenda baik telah direncakan dengan optimisme yang tinggi, sementara kelompok lain melakukan manuver dengan berdalih mencari kekurangan agenda yang di susun. Alih-alih ingin menampakkan kelemahan kepada orang, timbul rasa pesimis akan mengalir ke semua orang termasuk yang sang penggagas pesimisme. Semua tertular rasa pesimisme akibat dalil-dalil yang dipakai masuk akal. Namun tidak melihat kebaikannya dulu sebelum "mengkartu matikan" agenda tersebut.

Memang tujuannya bukan untuk "mengkartu matikan" agenda tersebut, hanya untuk sebagai koreksi akan kelemahan-kelemahan bila regulasinya seperti itu. Tetapi sebagai mahasiswa kita harus bisa membaca situasi, layak tidak kata-kata yang berdampak buruk akan merubah segalanya atau baiknya selain mengungkapkan rasa pesimis juga diganti dengan agenda baru dengan catatan memotivasi dan memberikan harapan serta optimisme tinggi.

"Jika masih banyak rasa kemungkinan-kemungkinan menyelimuti diri anda maka yang terlahir ialah rasa pesimis dan bisa-bisa harapan tersebut akan terkubur"

Hiruk Pikuk Menuju Pilgub DKI 2017


Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta untuk periode 2017-2022 terbagi menjadi tiga poros kekuatan politik, dan terkesan layaknya adu kekuatan bagi tokoh-tokoh nasional yaitu Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Prabowo Subianto. Ketiga Ketua Umum partai itu mempunyai jagoan masing-masing.

Megawati Soekarnoputri Ketua Umum PDI Perjuangan bersama Partai Golkar, Nasdem dan Hanura mempunyai calon Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahok dipasangkan dengan kader PDIP Djarot Saiful Hidayat. SBY Ketua Umum Partai Demokrat, bersama PAN, PPP dan PKB mengusung calon Gubernur Agus Harimurti Yudhoyono yang tak lain adalah putra pertama SBY. Agus dipasangkan dengan birokrat DKI Sylviana Murni. Prabowo Subianto Ketua Umum Partai Gerindra bersama PKS mengusung calon Gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
Ketiga pasangan kandidat Pilgub DKI kebanyakan di isi oleh wajah baru, dan menjadikan vitamin demokrasi indonesia untuk kedepannya. Menilik lebih jauh, strategi jitu hingga aneh pun mulai diterapkan, menariknya politik ini masih saja beraroma Pilpres 2014 silam.

Lihat perkembangan elektabilitas Ahok-Djarot saat ini, mulai menurun seiring munculnya lawan yang sepadan. Untuk menuju DKI 1 & 2 pun sangat tipis ketika dipengaruhi dengan munculnya kampanye hitam seperti isu SARA ketika memilih pemimpin yang bukan islam. Ahok yang di cap tukang gusur berubah kalem ketika masyarakat mulai cenderung memilih pemimpin baru ketimbang dirinya yang berkualitas. Tidak ingin mengucap kotor lagi adalah strategi pribadi Ahok dalam merubah ritme. Tetapi, perubahan drastis seperti itu malah menjadi bomerang sendiri bagi Ahok karena masyarakat kini telah pandai menilai sendiri apalagi ditambah dengan media yang memanas-manaskan Ahok akibat perubahan perilakunya secara tiba-tiba.
Sebaiknya kubu PDIP harus segera mengalih strategi, guna meredam situasi yang tidak menguntungkan bagi calonnya dan koalisinya tersebut. Apalagi kabar tidak sedap beredar tentang keangkuhan Megawati ketika mencalonkan Ahok-Djarot (20 September 2016 lalu) dengan mengenakan jaket PDIP bisa membuat koalisi gemuk ini akan terjadi perselisihan.
Sejumlah partai pengusung resah, terutama partai Golkar. Golkar menganggap Ahok-Djarot adalah milik semua partai yakni partai pendukung maupun pengusung, walau Ahok di dukung oleh PDIP sejak Pilgub Jakarta 2012 yang lalu. Perihal ini juga ditambah dengan berita surat pengunduran diri dari politisi Boy Bernadi Sadikin, Rabu 21 September 2016 dan lalu merapat ke kubu Prabowo, serta diperparah dengan adanya wacana penunjukan tim sukses dari partai PDIP.

Di luar kisruh internal koalisi, strategi yang menarik dari ibuk Mega sangat bagus untuk di ulas. Dipasangnya Djarot sebagai wakil Ahok mengindikasikan jika menang Ahok akan dijadikan wakil Jokowi di Pilpres 2019 mendatang. Lalu Djarot naik menjadi Gubernur dan PDIP akan menjadi partai yang sangat berkuasa karena telah memegang 2 posisi penting. Walhasil posisi Wagub akan di undi dari 3 partai Golkar, Nasdem dan Hanura. Jika kalah, kemunginan jabatan Mendagri akan di isi oleh Ahok, dan Djarot kemungkinan masih saja dalam lingkaran partai PDIP.
Sebutan "Anak Emas" mungkin harus disematkan kepada Ahok oleh PDIP, terutama oleh Jokowi yang notabane secara personal adalah mantan wakilnya. Sebab  seandainya mantan Bupati Belitung Timur ini menang otomatis tidak ada gubernur baru, ditengarai kasus-kasus tidak akan mencuat. Lain halnya bila Ahok kalah, kasus seperti "dugaan korupsi Jokowi oleh publik" seperti kasus bis transjakarta kemungkinan akan dikembangkan oleh pihak berwajib atas rekomendasi Gubernur baru.

Kemudian pasangan Agus-Sylviana, banyak kalangan menganggap SBY salah kalkulasi ketika menempatkan Agus menjadi kandidat Gubernur Jakarta. Karier yang cemerlang di militer seakan di putus begitu saja oleh orang tuanya sendiri. Namun bukan tanpa strategi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengusung Agus Harimurti Yudhoyono sebagai calon gubernur DKI berpasangan dengan Sylviana Murni. SBY memiliki segudang strategi yang sudah dipersiapkan untuk putra sulungnya itu. Yang jelas, peluang berkarier anaknya di TNI sudah tidak banyak karena tidak ada dalam lingkaran kekuasaannya lagi.
Pasangan Agus juga bukan sembarang orang, punya track record yang mumpuni sebagai birokrat, pendidikan tinggi dan berpengalaman (mantan walikota Jakarta UTARA) yang bisa mendukung Agus untuk cepat menguasai masalah DKI. Di harapkan citra Sylvia bisa menarik kaum muda perempuan profesional dan terdidik.
Jika menang Agus disiapkan akan running di 2019. Capres termuda, mengikuti jejak Obama, seperti yang dirintis Anas Urbaningrum, tapi kurang mendapat dukungan yang kuat sehingga tergusur.
Namun jika Agus kalah di Pilgub, SBY masih menyiapkan strategi lain. Agus nantinya akan memimpin Partai Demokrat. Tapi kekalahan berpotensi kecil sebab SBY selalu mempunyai kekuatan hebat yang tak terlihat serta mempunyai 1001 alternatif.

Kemudian pasangan Anis-Uno. Siapa yang tidak kenal dengan Anis Baswedan? Sosok satu ini ringan dan teratur dalam bertutur kata, dan dalam akademik beliau adalah juaranya. Beliau merupakan peraih penghargaan 20 orang berpengaruh pada 20 tahun mendatang dari majalah jepang. Tidak sedikit prestasi akademiknya yang diraih sehingga menjadikannya menteri pendidikan, namun dalam perjalanan ia di depak yang disinyalir ketakutan Jokowi akan menterengnya citra Anis menuju kursi presiden akibat kebijakannya yang proposional selama menjadi menteri.

Kemudian pasangannya yang merupakan lulusan amerika juga merupakan salah satu calon Wagub yang terdidik, selain berprestasi akademik Sandiaga Uno juga seorang pebisnis yang sukses. Bahkan bukan suatu keniacayaan duet birokrat-pebisnis akan dapat mengatasi segala permasalahan ibu kota.
Strategi yang dimainkan oleh koalisi Prabowo memang tidaklah sehebat strategi SBY bagi calonnya yang aman jika apapun keputusan pada Pilgub nanti. Yakni jika menang di Pilgub nanti, Anis akan disandingkan bersama Prabowo di Pilpres 2019 lalu wakil Gubernur di isi oleh Sandiaga Uno yang berbaju PKS, terakhir partai islam ini berkuasa pada tahun 2004 jadi ini juga merupakan motivasi besar untuk memnangkan Pilgub kali ini.

Pengsungan Anis ke dalam koalisi Prabowo banyak yang membuat pertanyaan besar. Masih kuat ingatan semua orang dengan tidak lolosnya Anis pada konvensi partai Demokrat lalu menjadikan Anis berlabuh ke Jokowi dan menjadi menteri pendidikan. Berjalannya waktu beliau seakan seperti menjadi jubirnya Jokowi, terkadang statmentnya sedikit menyinggung hati Prabowo. Integritasnya patut dipertanyakan karena dahulu mebully Prabowo seolah menandakan tidak adanya sikap "Satunya Kata Dengan Perbuatan". Apakah mendekati JK adalah modal untuk mendekat Prabowo?? Atau mungkin hal yang dilakukan pak Anis adalah sebuah pencitraan, seperti kata pak SBY "Politik Itu Citra".

Jadi, strategi jitu berperan penting dalam politik merupakan masalah yang klasik, hiruk pikuk Pilgub kali ini seperti babak lanjutan dari Pilpres 2014 silam. Perseteruan abadi antara Megawati dan SBY masih saja memuculkan daun barunya dari batang, sebab akarnya saja belum bisa dihilangkan. Lalu Prabowo hadir yang harusnya sebagai penengah malah memilih salah satu dari pesaing tersebut. Namun kali ini Prabowo seperti mempunyai daun kehidupan sendiri, yang dipercayai akan mengungguli dari daun-daun lainnya, sebagai mana hal yang sama dilakukannya ketika Pilpres 2014.

Akhirnya, tiga tokoh nasional ini saling pandang, saling sorot, serta saling mengawasi. Partai mulai sibuk dengan jargonnya, pertarungan semakin sengit.  Menang Pilgub maka harapan besar untuk pucuk pimpinan di negeri ini. Dan harapan kita senagai rakyat yang pro demokratis, semoga saja dengan semakin baik perpolitikan indonesia dapat tertular pada setiap elemen, yakni semakin berkualitasnya calon-calon yang di usung.

Satu-satunya di Sumatera, Jurusan MKP Memiliki Prospek yang Baik di Masa Depan

Program studi Manajemen Kepelabuhanan yang berdiri pada 2008 dan resmi di akui pemerintah berdasarkan akreditasi BAN-PT C-2013 telah memiliki 1 angkatan. Melihat prospek program studi ini kedepannya mampu bersaing dengan mahasiswa diluar yang juga memiliki kualifikasi setara. 

Pesatnya studi kemaritiman di indonesia ditandai dengan berjamurnya perguruan tinggi berkonteks kemaritiman. Hal ini tentu menjadi suatu pertanda baik dalam persaingan mencetak insan-insan yang berkompeten dalam dunia bahari, untuk itu mahasiswa MKP di Universitas Karimun jang Ini an hanya berdiam diri dengan keengganannya mengikuti persaingan ini. Walau semakin ketat dalam mencari lapangan pekerjaan, tidak bisa dipungkiri bahwa program bidang studi yang mengelola dan mengatur tentang ketatanan pelabuhan ini. Tidak dimiliki oleh sebagian perguruan tinggi yang berada di daerah sumatera, yang ada hanyalah perguruan tinggi berbentuk akademi. Seperti Akademi Martim Indonesia (AMI Medan), Akademi Maritim Belawan (AMB Medan), Akademi Sapta Samudera Padang dan terakhir Akademi Bina Bahari Palembang.

Akademi juga memiliki prodi yang sama percis yang dimiliki oleh Universitas Karimun, namun dalam menempuh pendidikannya mereka hanya 3 tahun (6 semester) yang disebabkan gelar akademiknya D3 (Diploma-3). Syarat untuk mendapatkan gelar studi maka harus menyelesaikan sebuah karya ilmiah yang disebut tugas akhir sebagai persyaratan kelulusannya.

Sedangkan prodi MKP jenjangnya Sarjana, karena ia dibawah naungan perguruan tinggi berbentuk universitas. Untuk mendapatkan gelar sarjana (S1) atau undergraduate secara normatif dibutuhkan waktu selama 4 sampai 7 tahun, tapi ada juga yang menyelesaikannya dalam waktu 3,5 tahun ataupun lebih dari 7 tahun tergantung dari kebijakan perguruan tinggi yang bersangkutan. Persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana maka harus menyelesaikan sebuah Karya ilmiah bernama skripsi yang wajib dibuat dan merupakan persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana.

Sebenarnya program diploma di akademi dan program sarjana di universitas pada jurusan yang berhubungan dengan maritim pada umumnya hampir sama. Namun yang membedakan hanyalah kurikulumnya. Diploma memiliki bobot studi 60% praktek dan 40% teori, sedangkan Sarjana memiliki bobot studi 40% Praktek dan 60% teori. Dengan kurikulum yang seperti ini bertujuan agar para lulusan Diploma di akademi kemaritiman akan siap untuk bekerja karena sudah memiliki berbagai keahlian yang telah diperoleh dari kampusnya, sedangkan lulusan Sarjana seperti di kampus Universitas Karimun lebih diarahkan ke bidang riset dan disiapkan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi sampai jenjang akademis Doktor. Lebih mudahnya, kalau program studi Diploma diberikan bekal keterampilan untuk menjadi praktisi atau sejenisnya, sedangkan Sarjana mahasiswa diarahkan untuk menjadi akademisi.

Pada semua program studi di lingkungan maritim berbeda tempat bekerja nanti, seperti di akademi yang umunya memiliki 3 jurusan. Yakni Nautika, Teknika, dan Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Pelabuhan. Nautika dituntut untuk menguasai medan laut yang otomatis wajib menguasai segala bidang yang berada di atas kapal, mulai dari sistem kendali, nahkoda, membaca arah angin, dan intinya ia merupakan orang yang memegang kendali penuh dan bertanggung jawab apa yang terjadi di atas kapal. Lalu untuk jurusan Teknika pun begitu juga tetapi lingkupnya tidaklah besar seperti nautika, ia hanya menguasai satu teknik saja saat berada pada operasional di kapal laut. Contoh teknik permesinan.

Nah yang menarik jurusan Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Pelabuhan, karena ia sama seperti yang dimiliki oleh Universitas Karimun yakni jurusan MKP. Berbeda dengan yang di akademi, MKP memiliki prospek ke depan yang begitu luas terlebih yang dimiliki oleh negara. Ada 8 instansi yang siap menerima lulusan yang memiliki kualifikasi MKP, diantaranya Kantor Administasi Pelayaran, Syahbandar, Keimigrasian, Karantina, Bea Cukai, KPLP, KP3 dan Secofindo.

Untuk yang di akademi, mereka tentunya bisa juga berada pada instansi di atas namun lebih cenderung ke Departemen Perhubungan bagian laut dan sektor BUM Swasta yakni perusahaan di sektor kemaritiman. Penyebabnya kurikulum yang dikuasai hanya 1 atau dikhususkan untuk menguasai satu bidang, sedangkan MKP Universitas Karimun di tuntut untuk memiliki 8 bidang dan 1 bidang khusus dalam pelaksanaan tahap akhir-skripsi.

Kehebatan & Kalkulasi Strategis SBY di Pilkada DKI



Kehebatan & kalkulasi strategis SBY sangat cermat. Dia sangat teliti & tahu moment yang tepat untuk bergerak.

1. SBY mengumpulkan ketua-ketua partai yang sebagian adalah pendukung Jokowi.

2. Partai-partai tersebut adalah parpol islam, dia rangkul & dia tunjukkan wibawa dia sebagai sentral keputusan.

3. Dia mampu kumpulkan parpol islam & parpol nasionalis. Ini menunjukkan kewibawaaan dia yang masih mampu melakukan konsolidasi politik & mampu mendesain kekuasaan parpol.

4. SBY kumpulkan parpol lintas ideologi (islam & nasionalis) pasca Megawati & kekuatan Teuku Umar mengantar Ahok mendaftar cagub ke KPU. Ini pertanda kejelian SBY, agar koalisi & kekuatan yang akan ia galang sesuai dengan kalkulasi dia, maka dia ngak punya beban politik kepada masyarat jakarta, karena Ahok & parpol pendukungnya tidak berkomunikasi dengan pihak Cikeas. Maka SBY akan bergerak maksimal untuk mengalahkan Ahok.

5. Pasca pengumuman koalisi cikeas, performa & citra cagub yg diusung lawan Ahok akan ditata, di-create sesuai selera rakyat Jakarta yang plural.

SBY paling tahu meramu emosi masyarakat.

Sukses untuk Pak SBY.
lupakan Ahok, PDIP, Hanura & Nasdem, sambut Gubernur baru hasil ramuan Cikeas.

(by Samuel Lengkey, aktivis)

Menghargai Proses Secara Tidak Langsung Hasil Telah Terbeli (Menulis 1)


“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga” (HR. Muslim)

Kalau dipikir-pikir untuk menuangkan gagasan atau ide kita dalam sebuah tulisan itu susah, dan tidak gampang. Tapi, apakah memang demikian? TIDAK, sejatinya, menulis sangat mudah, asalkan kita mau mengeksplor semua apa yang ada dalam pikiran kita, mencoba menuangkan seluruh ide yang kita punya, yang akhirnya membentuk 'lakon" yang menarik.

Memang menulis dituntut untuk mempunyai keahlian, kecakapan, dan kecerdasan. Namun, hal demikian hanya metode klasik yang sering digembor--gemborkan oleh mereka, para pecandu "methode" menulis, katanya itu syarat untuk menjadi penulis yang handal. TIDAK!! Salah besar.!

Syarat utama untuk jadi penulis cuman satu, asalkan kita hapal huruf-huruf alphabet "A sampai Z", kita sudah memenuhi syarat untuk jadi seorang penulis, karena ketika kita sudah hafal itu di luar kepala kita. Otomatis kita sudah bisa membaca dan menulis, sudah sangat, sangat, dan sangat cukup sebagai perangkat dasar manusia, untuk memulai karir sebagai penulis.

Selain itu, syarat utama yang lain adalah penulis harus menguasai bahasa manusia, entah itu bahasa indonesia, bahasa melayu, bahasa jawa, bahasa batak, bahasa inggris, atau apalah bentuknya.

Ketika kita sudah memenuhi dua kriteria tersebut, maka kita sebenarnya telah mampu untuk menulis. sebagai bukti: Menulis SMS, Menulis email, Menulis Status di Facebook, Chating, dan teman-temannya. Nah, model tulisan tersebut adalah gambaran bahwa manusia sesungguhnya punya bakat semua untuk menjadi penulis. Pasti dalam hal ini, akan terlontar pernyataan, "Gaya penulisan itu kan tidak masuk kategori dalam penulisan buku (ilmiah, novel, cerpen, dan sebagainya), jadi harusnya dibedakan, mana tulisan sehari-hari, mana tulisan yang benar-benar tulisan?".

Memang demikian. Tapi, Apakah kita akan mampu menulis, jika kita tak hapal A-Z, apakah kita mampu untuk menulis jika kita tak menguasai bahasa manusia? Semua orang pasti akan serempak menjawa, "IYA". Lantas apa hubungannya dengan yang tadi di contohkan (SMS, Chat, Surat, dan sebagainya)? Jawabnya, model tulisan SMS, Chat, dan surat--tidak bisa dipungkiri, tulisan macam itu terlahir dari pikiran dan rasa yang ada dalam diri kita. Karena dalam menulis apapun, sudah pasti kita dipaksa untuk berpikir.

Nah, berangat dari situ--untuk penghantar sebagai penulis, sejatinya kalian sudah memenuhi kriteria dan syaratnya, tinggal dikembangkan saja. Asalkan kita mau berproses, pasti bisa menulis. Lantas apa yang harus kita tulis sebagai langkah awal?

Permulaan, kita menulis jangan dulu yang susah-susah, coba kita cari tema yang benar-benar kita kuasai, apapun itu temanya--entah hobi kita, kebiasaan kita, biodata kita, dan sebagainya yang kita pahami. Pada saat proses menulis, sebaiknya kita jangn dulu membacanya, sebelum kita menganggap bahwa tulisan kita telah selesai, yang ditakutkan, kalau baru satu kalimat atau satu paragraf lalu kita baca, pasti kita akan merasa tidak sesuai dan jelek. Secara otomatis kita akan menghapusnya, dan hapus, serta hapus terus.

Maka, apa yang kita tulis tidak akan pernah selesai, oleh karena itu alangkah baiknya jika pada saat kita menulis sebagai pemula, jangan dulu kita baca sebelum kita merasa bahwa tulisan yang sedang kita tulis benar-benar selesai. Nah, setelah selesai semuanya, baru tulisan kita edit, mana yang tidak sesuai dan tidak nyambung, bisa langsung kita ganti, dan begitu seterusnya. Di samping itu, agar kita selalu istiqomah atau konsisten dalam menulis, sebaiknya dalam mengasah kreativitas kita menulis, kita membuat target, semisal: 1 hari 1 halaman, maka 1 bulan kita bisa dapat 30 halaman, hitung saja jika 3 bulan kita sudah dapat berapa halaman. Tetapi, kalau kita ingin terus memperbanyak target halaman dalam satu bulan, kita bisa menaikan target itu menjadi 2/3 halaman dalam satu hari, mungkin bisa lebih.

Bisa ditarik kesimpulan, kalau semisal kita mau memanfaatkan hari dan waktu yang kita punya, serta memperdayagunakan setiap kata yang kita keluarkan dari mulut kita, atau mau memanfaatkan semua pikiran kita dalam setiap kata dan tulisan, maka tidak menutup kemungkinan kreatifitas kita dalam menulis akan benar-benar terukir, dan akhirnya kita menjadi penulis yang profesional.

Perlu di ingat, bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Takdir bisa kita rubah dengan sebuah usaha yang maksimal, dan usaha itu disebut dengan proses, so sebagai makhluk yang selalu bersyukur seyogyanya proses itu dinikmati, jangan sampai patah semangat hanya karena tulisan yang dibuat tak kunjung seperti yang diharapkan. Dan jangan sampai berfikir bahwa ingin sesuatu secara instan, karena proseslah yang akan menjadi guru terbaik dalam kehidupan manusia.

Selamat menulis :)

Berilmu Hanya Usaha Mendekatkan Kepada Allah Swt


Allah swt. memerintahkan kepada umat manusia agar berpengetahuan luas supaya manusia dapat memanfaatkan potensi yang terkandung di dalam alam semesta yang telah Allah swt. sediakan kepada manusia.

Perintah Allah swt. supaya manusia berpengetahuan sangat jelas sekali di dalam Al-Qur’an surah Al-‘Alaq ayat pertama, yaitu, Iqra’ (bacalah). Bacalah apa yang perlu dibaca, bacalah dengan hati, pikiran, dan pengamatan. Dengan banyak membaca seseorang akan menjadi banyak tahu, dengan banyak tahu ia akan menjadi berilmu dan bahkan menjadi ilmuan.

Dalam sejarahnya, ayat Iqra’ tersebut turun kepada Muhammad saw. yaitu, kepada masyarakat yang masih belum banyak mengenal baca dan tulis, namun demikian, Muhammad saw. sudah mempunyai daya pikir serta analisa yang tajam atas berbagai kejadian serta fenomena yang ada di masyarakatnya.

Kecintaan Muhammad saw. akan ilmu serta supaya ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan salah satunya ia tunjukkan dalam kasus perang badar. Dalam perang badar kaum muslimin memperoleh kemenangan yang besar. Pasukan yang berjumlah kecil yaitu kaum muslimin dengan jumlah 313 tentara dapat mengalahkan pasukan kaum musyrikin yang berjumlah besar, yaitu 1000 tentara pasukan perang.

Banyak dari tentara kaum musyrikin yang ditawan oleh pasukan kaum muslimin. Muhammad saw. sebagai komandan tertinggi pasukan kaum muslimin dengan budi pekertinya yang luhur serta sifatnya yang lembut memerintahkan kepada kaum muslimin agar memperlakukan tawanan secara manusiawi. Para tawanan yang mempunyai harta bisa bebas dengan menebus dirinya dengan hartanya. Bagi mereka yang tidak mempunyai harta juga bisa bebas dengan ilmunya, syaratnya mereka yang pandai membaca harus mengajarkan cara baca kepada anak-anak kaum muslimin, sedangkan mereka yang pandai menulis harus mengajarkan ilmu tulisnya kepada anak-anak kaum muslimin.

Kasus di atas merupakan fakta sejarah yang tidak dapat dibantah. Muhammad saw. sangat menghargai orang-orang yang berilmu serta mencintai ilmu. Ia sangat bercita-cita agar ummatnya menjadi ummat yang berpendidikan. Begitu pentingnya ilmu dalam salah satu sabdanya ia mengatakan, man salaka thariqan yaltamisu fiihi ‘ilman sahhalallohu lahu thariqon ilal jannah, barang siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menggapai ilmu maka Allah mempermudah baginya jalan menuju ke surgaNya.

Ilmu dalam hal ini tidak terbatas kepada ilmu tertentu tetapi mencakup ilmu-ilmu apa saja, ilmu-ilmu eksakta atau noneksakta (ilmu-ilmu umum atau ilmu-ilmu agama). Kaum muslimin harus menguasai ilmu dalam berbagai bidang. Sebab kemajuan tidak akan bisa tercapai tanpa ilmu. Sejarah membuktikan kemajuan dan kejayaan Islam masa lalu karena kaum muslimin menguasai ilmu pengetahuan di berbagai bidang.

Di dalam ajaran Islam, ilmu apapun itu haruslah berupa ilmu yang membawa kepada pendekatan diri kepada Allah swt. Seseorang harus insaf bahwa, potensi, minat, dan bakat merupakan karunia dari Allah swt. Maka ilmu apapun yang sudah dikuasainya haruslah dibawa kepada kesadaran akan ke-Maha Besaran dan kekuasaan Allah swt.

Dengan ilmu yang dikuasainya seseorang tidak boleh sombong dan angkuh. Kemudian meremehkan orang lain dan berbuat semena-mena di alam semesta, seperti membuat kerusakan demi keuntungan pribadi. Sekali lagi ia harus ingat bahwa, potensi, minat, dan bakat yang melekat dalam dirinya hanyalah pemberian Allah swt. semata-mata. Bahkan, ilmu itu sendiri adalah milik Allah swt., sedangkan manusia hanya sekedar memakainya saja.

Seperti inilah yang dikhawatirkan oleh Muhammad saw. Manusia dengan ilmunya menjadi angkuh dan sombong, mereka merasa bahwa ilmu yang ada pada dirinya merupakan hak miliknya, ia menganggap bahwa dengan ilmunya ia menganggap sudah mampu memenuhi kebutuhan hidupnya serta mampu menjawab berbagai permasalahan dalam kehidupannya, ia telah melupakan Allah swt. Ia dengan ilmunya bukan menjadi dekat kepada Allah swt. tetapi malah semakin jauh dari Allah swt.

Sumber dari : Media Portal Pks (Dakwatuna.com)

Budaya Mahasiswa Mulai Terancam Hilang


Semua mahasiswa pastinya mengerti akan perubahan zaman, karena mereka merupakan bagian dari objek yang merasakannya. Namun apa mahasiswa sekarang masih tetap idealis sebagai mana dengan mahasiswa dulu.

Sudah saatnya dipertanyakan apakah masih ada jiwa semacam itu bersarang di dalam diri mereka. Gelar prestisius yang disandang mahasiswa, seperti agent of social change, agent of control, agent of transformation, dan intelektual muda kini sudah kurang populer untuk ditempelkan di atas nama mereka. Agaknya motivasi bung karno yang terkenal dengan "Mengguncang dunia hanya dengan 10 pemuda" telah menjadi buian kosong dan tidak logika menurut akal mereka. Wajar saja seandainya demikian, karena zaman menuntut mereka untuk di ikuti dan kesadaran cinta tanah air untuk memajukan bangsa hanya sebatas pandai menyanyikan lagu indonesia raya.

Mari kita mencoba untuk melakukan refleksi singkat sekaligus membandingkan aktivitas mahasiswa dahulu dengan aktivitas mahasiswa zaman sekarang. Jika ada sebagian orang mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas mahasiswa dahulu sudah tidak relevan untuk dipraktekkan mahasiswa zaman sekarang, pada level tertentu mungkin itu benar adanya, tapi tidak seluruhnya benar. Sebab, ada beberapa aktivitas atau budaya mahasiswa yang memang harus tetap dijaga kelestariannya serta berkesinambungan, seperti membaca buku, berdiskusi, melakukan advokasi masyarakat, melakukan kritik terhadap pemerintah, menyampaikan aspirasi, melakukan pertemuan-pertemuan antar mahasiswa, serta agenda-agenda positif lainnya.

Mahasiswa pekerja sosial. Bukan! Tetapi mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa, mereka agen yang siap menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, dan siap memberikan gagasan cerah pada saat menghadapi suatu persoalan. Minimal, mahasiswa harus jeli melihat sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai sebuah permasalahan, atau jangan-jangan mahasiswa zaman sekarang sudah tidak mengerti sesuatu yang disebut masalah?

Penyebab akibatnya pergeseran budaya bisa saja karena faktor internal maupun eksternal mahasiswa itu sendiri. Dalam perspektif psikologi perkembangan, lingkungan adalah faktor kuat yang dapat mempengaruhi pola pikir serta tingkah laku seorang individu. Artinya, perubahan pola pikir serta tingkah laku individu sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan di mana ia hidup, sebab kondisi lingkungan mengikuti perubahan zaman, dan itu merupakan hukum alam, meskipun sebenarnya manusia itu sendirilah yang membuat perubahan-perubahan tersebut.

Manusia harus mampu memproteksi diri dengan menggunakan akal serta mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Melihat relita aktivitas mahasiswa -kecuali belajar-, menjadikan kegiatan tersebut termasuk ke kategori keinginan. Padahal dalam konteks bermasyarakat kedepannya mahasiswa akan berbaur bersama rakyat, sehingga dengan banyaknya wadah dan aktivitas maka akan menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang. Maka suatu keharusan keinginan di ganti dengan makna kebutuhan!

Sebagian orang menganggap wajar pergeseran-pergeseran itu terjadi akibat perubahan arus zaman. Dan sebagian lainnya menyalahkan proses pembelajaran di kampus yang tidak mampu menumbuhkan kesadaran (kognitif) mahasiswa. Ada lagi sebagian lain justru menyalahkan individu-individu mahasiswa itu sendiri karena dianggap lebih memilih gaya hidup hedonis nan pragmatis, enggan untuk diajak berpikir dan berjuang. Bahkan, ada lagi sebagian lain yang justru beranggapan agak ekstrim, bahwa mahasiswa zaman sekarang tidak cerdas dan jika boleh dikatakan, bodoh

Terlepas dari hal itu, apa pun faktor yang menjadi penyebab pergeseran budaya mahasiswa tersebut harus kita akui bahwa realitas seperti itu memang sungguh-sungguh terjadi dan jangan mencoba tutup mata, terutama kepada mereka yang memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan peran serta fungsi mahasiswa. Karakteristik mahasiswa zaman sekarang memang sudah jauh berbeda dengan karakteristik mahasiswa zaman dahulu, dan itu sangat mudah menilainya dari aktivitas yang mereka pertunjukkan sehari-hari, baik di kampus maupun di luar kampus.

Masih segar ingatan kita ketika mahasiswa menjadi pelaku sejarah dalam menumbangkan rezim orde lama, kalau tidak ada Mahasiswa mungkin parlemen kesulitan dalam menumbangkan pemeritahan di bawah presiden Soeharto. Artinya, ada beban sejarah yang dipikul mahasiswa sekaligus ada suatu harapan yang membumbung tinggi atas keberadaan mereka di negeri ini. Mau di bawa ke mana citra, beban sejarah serta harapan besar itu?

Universitas Karimun Harus Seperti UMRAH



Kampus yang sehat adalah kampus yang benar menjalankan tri darma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi kalangan akademis penelitian merupakan tujuan mutlak dari eksitensinya perguruan tinggi. Tak lupa juga dengan mengembangakan hasil penelitian yang berpotensi membawa hawa baik dalam peradaban di skala nasional, regional atau jenjang yang lebih kecil sekalipun. Lalu, setelah melakukan kegiatan dua hal tadi rasanya tidak tepat hanya sebatas bergulat dengan teroritis. Baiknya dilakukan dengan turun langsung ke lapangan bersama rakyat untuk mewujudkan apa yang telah didapat selama berada di bangku kuliah.

Namun nyatanya, kampus yang sehat tidak seperti di harapkan. 70 persen mahasiswa di Universitas Karimun adalah pekerja dan sisanya non pekerja, dengan data ini apakah bisa menjadi kampus yang berkualitas menurut tri darma perguuan tinggi. Agaknya hanya pengabdian yang bisa dilakukan, tetapi tidak seperti mahasiswa kebanyakan. Yang siap secara mental, intelek, dalam menangani berbagai masalah di lapangan. Wadah saja tidak cukup, belum lagi masalah waktu yang terbuang hanya untuk bekerja. Tidak bekerja maka tidak bisa kuliah, barangkali slogan seperti ini sudah menjadi motto dari masing-masing individu. Terlepas itu semua, ada sebagian mahasiswa yang aktif dari kegiatan kemahasiswaan. Namun jumlahnya tidak banyak, dan lambat laun mahasiswa yang berpeluang besar dalam kesuksesan di masa depan ini, dalam ketertarikannya mereka akan terpengaruh oleh lingkungan sekitar seiring bergulirnya waktu.

Lalu bagaimana solusinya? Apakah kampus ini dipindahkan ke yayasan yang lebih bertanggung jawab. Atau dikembalikan ke pemerintah untuk mengurusinya. Mungkin jawaban yang terakhir amat tepat, jika melihat situasi yang ada di civitas akademika Universitas Karimun. Bayangkan bila kampus berbaju negeri hadir di Kepri -berarti  ada 3 bila terwujud. Tentu akan memacu lagi semangat kampus lainnya dalam bersaing di kancah pendidikan terutama prestasi dalam pengabdian masyarakat. Baru-baru ini Politeknik Negeri Batam telah berhasil mengembangkan mikro chip dan juga mereka telah berhasil membangun kerja sama dengan perusahaan besar.

Lalu, UMRAH dengan segudang akses telah banyak menuai keberhasilan, kegiatan kemahasiswaannya telah banyak di ikuti dalam level yang lebih tinggi, regional maupun skala nasional dengan aktifnya kegiatan kemahasiswaanya. Dan terakhir, sebuah nama yang sulit untuk di banggakan. Entah itu kekurangan informasi atau memang tidak ada prestasi, yang jelas. Kami masih tertinggal, bahkan jauh tertinggal.

Menurut salah seorang dosen Universitas Karimun, ketika UK menjadi Perguruan Tinggi Negeri maka anak tempatan akan sulit untuk menagambil kesempatan tersebut. Kenapa?? Menurutnya dari hasil tes tertulis setiap tahunnya, menunjukkan bahwa calon mahasiswa yang berasal dari Karimun mayoritas tidak memenuhi standar kelulusan. Tapi apakah mindset seperti itu akan terus dipakai? Rasanya tidak, apa lagi jika kampus lain tengah berbondong-bondong memperbaiki sarana-prasarana, dosen, sistem hingga mata kuliah yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sementara kita hanya berdiam diri tanpa melakukan perubahan besar.

Benar, sekali lagi kita akan ketinggalan jauh, mahasiswa Karimun masih di anggap lugu, labil, belum dewasa untuk menyikapi di semua hal, termasuk halnya sendiri. Memajukan diri sendiri, kampus dan daerahnya sendiri.

Cerita Simbolik Mengenai Pengharaman Babi


Ada persamaan babi dan manusia. Yaitu bahwa ia tidak dapat dikuliti kecuali dengan memotong sebagian dari daging yang menyertainya, berbeda dengan binatang-binatang lain. Binatang yang satu ini sangat kotor, konon lalat saja enggan hinggap di dagingnya. Sifatnya yang buruk dan nafsunya sungguh begitu besar.

Memang, makanan dan minuman dapat mempengaruhi manusia. Pengaruhnya bagi fisik sudah tidak asing lagi. Bahkan ada minuman yang juga mempengaruhi manusia, minuman keras misalnya. Jiwa manusia akan berdampak buruk dengan memberinya semangat tanpa perhitungan untuk melakukan aktivitas. Karena itu banyak penjahat meminumnya sebelum beraksi.

Jika kita tidak menemukan jawaban yang memuaskan nalar kita menyangkut pandangan agama tentang babi, maka katakanlah bahwa pengharaman babi oleh agama islam -dan sebelumnya oleh agama Yahudi- adalah berdasar satu sistem dimana rincian sistem itu tidak harus selalu dipahami nalar.  Katakanlah ia seperti sistem lalu lintas.

Di Indonesia dan di Inggris misalnya, kemudi mobil diletakkan di sebelah kanan kendaraan berbeda dengan di Amerika, Jerman, atau Timur Tengah dan banyak negara lain selain itu. Mengapa demikian? Kita tidak harus memperoleh jawaban, tetapi bila kita berada di Indonesia atau Inggris, kita harus mematuhi ketentuan yang berlaku di kedua negara tersebut. Dan juga berada di negara Amerika, Jerman atau Timut Tengah dan lainnya. Nah, demikian juga bila kita menganut agama islam, kita harus mematuhi ketetapan Allah yang menggaramkan babi, baik kita ketahui atau tidak.

Di sisi lain, perlu di ingat kisah simbolik yang dikemukakan oleh Imam Ghazali.
Seseorang ayah berpesan kepada anaknya, agar setelah kematiannya ia boleh merenovasi rumah mereka, tetapi sang ayah melarangnya menebang sebuah pohon. Setelah kematian sang ayah, anak itu merenovasi rumah. Ketika itu dia berfikir tentang pohon yang dipesankan ayahnya. "Ayah melarangku menebangnya, karena aroma kembangnya yang harum. Kini ada pohon yang beraroma lebih harum yang belum diketahui ayahku." Lalu ia menebang pohon terlarang itu. Beberapa hari kemudian, muncul seekor ular yang menyerangnya yang berasal dari pohon yang telah ditebang tersebut. Ketika itu barulah sang anak sadar, bahwa aroma pohon yang ditebang, di samping sedap dihirup manusia, dia juga menangkal datangnya ular. Demikian, nalar sabg anak terbatas dan hanya mengetahui sebagian dari tujuan larangan ayahnya. Begitu ilustraaj Imam Ghazali.

Jika demikian, tak mengapalah kita tidak mengetahui rahasia larangan Allah, bukankah masih amat banyak makanan lain yang lebih lezat dan sehar yang dapat dimakan ?

Aneka Makhluk Allah


Beraneka ragam makhluk Allah di permukaan bumi ini di alam raya, dan bertingkat-tingkat keadaan mereka. Di bumi yang kita huni ini kita melihat batu serta mengenal manusia. Batu adalah benda keras dari kumpulan benda-benda kecil yakni mineral, bewarna warni dan memiliki kualitas yang berbeda-beda, sehingga dikenal istilah batu mulia dan batu bata. Demikian juga manusia, mereka bertingkat-tingkat kualitasnya, bahkan semua mahluk memiliki peringkat kualitas.

Makhluk-makhluk ciptaan ada yang bersifat bendawi dan ada pula yang tidak demikian. Makhluk yang bersifat bendawi bertingkat-tingkat juga dan sejalan dengan sifat terpuji (baik) yang disandangnya.
Tumbuhan lebih tinggi tingkatannya dari pada batu-batuan. Karena, yang ini merasa dan bergerak -bahkan boleh jadi tahu- sedang batu-batuan tidak demikian, paling tidak demikianlah pandangan kita sebagai manusia.

Baca artikel sensasional : Rokok Haram Atau Mubah

Selanjutnya mutiara, walau dapat dinilai benda tak hidup, tetapi dia memiliki sedikit kehidupan yang menjadikannya memperoleh peringkat tinggi dari bebatuan, walau tidak setinggi tumbuhan.
Pohon zaitun atau kurma memiliki peringkat lebih tinggi lagi. Ia di nilai kehidupannya mendekati kehidupan terendah binatang sebab memiliki keistimewaan.

Binatang pun bertingkat-tingkat. Ada yang melahirkan dan menyusukan anaknya dan ini lebih tinggi dari pada yang tidak demikian. Lalu ada yang dapat dididik dan ada yang tidak dapat. Yang dapat dididik betingkat-tingkar lagi, hingga mencapai tingkatnya yang tertinggi -seperti monyet misalnya- dan dari sana beralih tingkatan itu ke tingkat manusia.

Lalu, manusia juga bertingkat-tingkat. Tingkatannya antara lain ditentukan oleh pengetahuan, kepekaan dan geraknya. Semakin dalam, haus dan bebas geraknya, maka semakin tinggi tingkatannya. Pengetahuan menuntut tanggung jawab. Karena itu, semakin tinggi tanggung jawab seseorang semakin tinggi pula kedudukannya. Contohnya perbandingan orang dewasa dengan anak-anak.

Di sisi lain, siapa yang tidak bertanggung jawab -walau dewasa dan berpengetahuan, orang gila misalnya- maka tidaklah dia memiliki kedudukan yang tinggi. Demikianlah, sehingga pada akhirnya kita menemukan bahwa keberhasilan mempertanggung jawabkan tugas adalah poko tolok ukur kedudukan manusia. Karena itu, manusia dewasa dan waras tetapi tidak bertanggung jawab, kedudukannya sangat rendah, bahkan boleh jadi lebih rendah dari pada binatang.

Rasul saw. mengibaratkan manusia dengan batu (tambang). Ada tambang emas, ada perak, batu bara dan lain-lain. Semakin tinggi nilai dan kualitasnya semakin mulia ia. Nilai dan kualitas itu -bagi manusia- adalah penyerapan nilai-nilai agama serta penghayatan dan pengalamannya. Menurut ulama di abad 21 itu adalah Takwa dalam bahasa Al-Qur'an.

Demikian, Wa Allah A'lam