Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kampus. Tampilkan semua postingan

7 Hal Penting Sebelum Presentasi


Presentasi adalah salah satu cara menyampaikan informasi kepada orang lain secara menarik dan informatif. Presentasi sangat penting, apalagi bagi seseorang mahasiswa. Mengapa demikian? Karena setiap mahasiswa harus bisa memaparkan setiap gagasannya di depan dosen atau pun di depan orang banyak. Agar semua materi dapat tersalurkan dengan baik dan mendapat perhatian dari para peserta, maka  kita perlu melakukan berbagai persiapan agar hasil yang kita harapkan tercapai. Berikut ini merupakan beberapa metode  yang perlu dipersiapkan sebelum presentasi, khususnya bagi mahasiswa Universitas Karimun:

1. Tentukan tujuan anda presentasi
Setiap presentasi pasti memiliki sebuah tujuan yang menjadi arah bagaimana anda akan memberikan presentasi tersebut. Secara umum tujuan dari presentasi adalah untuk memberitahu dan membujuk peserta/audiens untuk melakukan sesuatu. Jika sebuah presentasi bertujuan untuk menginformasikan sesuatu maka susun materi dengan detail dan informatif sehingga audiens yang sama sekali belum tahu persoalan menjadi mengerti dan paham. Tetapi, apabila presentasi tersebut bertujuan membujuk maka presentasi harus menyajikan sesuatu hal yang memiliki sisi emosi untuk mengubah sikap audiens dan mengajak mereka melakukan sesuatu seperti menyetujui ideaAnda, dan lain sebagainya.

2. Kenali audiens
Dengan mengenali para peserta kita akan mengetahui bagaimana penyajian presentasi yang tepat dan tahu bagaimana cara pendekatan dengan mereka. Mungkin yang hadir adalah seorang penting yang sangat senang dengan grafik dan angka. Maka penyajian grafik yang baik dan penjelasan di balik apa yang terjadi pada angka-angka akan menjadi nilai tambah. Sebaliknya bisa jadi orang yang ingin anda beri tahu dalam presentasi memiliki tipe visual, sangat senang dengan gambar, diagram dan contoh-contoh nyata. Untuk orang seperti ini anda pun dapat menyesuaikan slide presentasi dengan gambar yang dibutuhkan.

3. Tentukan topik presentasi
Apa topik yang akan saya sampaikan? Apakah topik ini dibutuhkan oleh teman-teman anda yang menjadi peserta? Itulah beberapa pertanyaan yang perlu anda tanyakan pada diri anda sebelum menentukan topik presentasi. Dengan begitu anda akan mudah menemukan topik dengan tepat dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Usahakan topik nda menarik dan menggugah peserta untuk mendengarkan.

4. Susunlah kerangka presentasi
Dalam menyusun kerangka presentasi, alangkah baiknya jika kita membuat pemetaan ide. Pemetaan ide dapat menggambarkan pokok-pokok pikiran yang penting atau keyword dari hal-hal yang akan anda jelaskan dalam presentasi. Hal ini dapat mempermudah anda dalam merangkai setiap materi presentasi secara urut dan memberikan gambaran lengkap dari presentasi dan poin-poin penting yang harus disampaikan.

5. Buatlah materi presentasi
Dalam membuat materi presentasi, pilihlah sumber yang dapat dipercaya serta perhatikan pula kesesuaian isi materi yang anda susun dengan apa yang dibutuhkan oleh peserta seminar dan tidak asal-asalan. Anda bisa mendapatkan materi dari pengalaman pribadi, buku, jurnal, hasil penelitian, majalah, internet atau koran. Presentasi sebaiknya menggunakan kalimat yang ringkas sehingga kemudian Anda bisa menjelaskan dengan memberikan rangkaian materi.

Dua hal terpenting yang perlu diperhatikan dalam membuat materi adalah bagian pembuka dan penutup. Karena pada bagian ini merupakan kesempatan Anda meraih perhatian dari para peserta seminar. Untuk bagian pembuka, jika perlu ingat bagian pembukaan yang Anda persiapkan berupa pernyataan, kutipan, pertanyaan, kisah atau bahkan sebuah humor. Pembukaan yang baik dan lancar akan menciptakan rasa percaya diri untuk kelanjutan presentasi. Pada bagian penutup, berikan kesimpulan yang akan diingat terus oleh audiens.

6. Tambahkan bantuan-bantuan visual
Salah satu alat bantu visual adalah slide presentasi. Buatlah slide presentasi lebih menarik. Dalam membuat slide ada beberapa prinsip yang harus Anda pahami, yaitu sebagai berikut :

• Sederhana
• Konten yang kuat
• Font yang indah
• Gambar yang menarik dan sesuai
• Penggunaan warna yang tepat
• Mematuhi prinsip CRAP, yaitu Contrast, Repetition, Alignment dan Proximity.

Prinsip yang perlu dipertimbangkan dalam menyiapkan slide adalah gunakan hanya poin-poin utama dan penting. Jangan membuat slide yang terlalu detail dan berisi seluruh hal yang anda akan ucapkan. Jika itu dilakukan, peserta akan membaca slide dan mereka tidak perlu lagi mendengarkan kata-kata Anda lagi.

Beberapa tips dalam pembuatan slide adalah tidak terlalu banyak teks dalam suatu slide. Gunakan gambar, diagram dan tabel untuk membantu menjelaskan suatu konsep, data dan fakta. Jangan membuat slide yang terlalu kompleks karena akan sulit dicerna dalam waktu singkat oleh peserta dan cenderung membuat peserta lelah sehingga tidak fokus pada apa yang anda sampaikan.

7. Latihan P\presentasi
Latihan terbaik dapat dilakukan dengan mengundang beberapa teman untuk mendengarkan presentasi anda. Minta mereka untuk memberikan komentar terhadap materi yang disampaikan, cara penyampaian dan hal-hal apa yang perlu diperbaiki.

Latihan ini akan membantu anda mengetahui sejak dini apakah anda sudah cukup siap dan menguasai materi presentasi atau masih ada hal-hal lain yang perlu diperbaiki. Semua pembicara handal selalu melakukan latihan sebelum melakukan presentasi. Dengan latihan yang baik anda akan lebih percaya diri, mampu menyesuaikan materi dengan waktu, dan anda akan menemukan cara terbaik dalam menyampaikan presentasi.

3 Macam Sifat Mahasiswa Karimun


Saya bedakan mahasiswa dalam tiga tipologi, yaitu: Mahasiswa Aktifis, Hedonis, dan Akademisi. Berangkat dari aneka latar belakang sosial, kemandirian ekonomi, pendidikan dan kekayaan intelektual, dan ragam budaya yang berbeda-beda, secara alamiah akan membentuk watak dan kepribadian para mahasiswa baru. Namun, setelah menjajakan kaki diranah kampus yang dikenal dengan tradisi pendidikan yang kuat, idiologi yang mengakar, serta kritis, setidaknya sedikit menghentak kesiapan mahasiswa baru dilingkungan anyar mereka ini. Kebiasaan mereka di rumah, akan terkikis perlahan-lahan sebab mereka telah menemukan ruang baru dengan berbagai dinamika ke aku-an.

Ibarat peta, ragam dinamika kampus akan menuntun dan menawarkan pilihan bagi mahasiswa, mencari apa dan hendak kemana adalah mutlak bagi mereka. Dari tiga tipologi mahasiswa itu, mahasiswa akan bermetamorfosa sesuai dengan yang diinginkan, tumbuh berkembang menjadi aku-nya. Tak ayal, pilihan menjadi aktifis, hedonis, dan akademisi adalah warna tersendiri. Lalu, bagaimana gambaran dari tiga tipologi mahasiswa tersebut:

Mahasiswa Aktifis:
“Tidak aktif tidak asyik,” naluri mahasiswa adalah kritis terhadap lingkungan sosial, politik, budaya, dan ekonomi disekitar mereka, peka terhadap gejala-gejala yang timbul di lingkungan masyarakat dan negara. Tak dimungkiri, mahasiswa dengan tipologi ini rela bermandikan keringat hanya untuk berdemonstrasi menolak kebijakan pemerintah yang tak pro rakyat, melayangkan berbagai tulisan dan kritik lainnya, melakukan bakti sosial di masyarakat dan bejubel kegiatan lainnya. Sekilas, ini tipe ideal. Tapi mahasiswa aktifis, harus pintar membagi waktu dan mengatur jadwal kegiatannya supaya tak bergeser dari pesan Mama “Nak kuliah yang benar, cepat selesai dan baktilah pada masyarakat” alias aktif bisa, belajar harus.

Dari corak pemikiran mahasiswa aktifis, memang cenderung berapi-api, orasi berkoar-koar dan sangat bergairah. Apalagi jika lingkungan kampus juga sarat politik, maka mahasiswa aktifis berada dijalurnya, mereka tak hanya belajar teori tapi juga merangsek lebih dalam diruang praktik, ruang publik. Tapi, tak ada yang sempurna, realita yang saya saksiskan di lingkungan kampus sendiri, banyak mahasiswa aktifis yang senang berlama-lama kuliah, mengejar impian politik dan jabatan lainnya yang dianggap prestisius.

Fenomena lainnya, mahasiswa aktifis juga tak bersih dimata mahasiswa dan lingkungan sosialnya. terkadang, idiologi mereka juga sudah ditumpangi kepentingan elite politik dan kepentingan pribadi. Tak jarang, setelah mendapat posisi di kampus, tak ada aplikasi riil kegiatan yang mengakomodir kepentingan mahasiswa di kampus. Entahlah, dibalik lantangnya orasi dan semangat mengkritisi, ternyata masih banyak kesan negatif lainnya yang melekat pada sosok mahasiswa aktifis ini.

Mahasiswa Hedonis:
Salah satu tipe paling unik adalah tipe mahasiswa hedonis. Jangan salah kaprah, mahasiswa hedonis tak semuanya borju, yang pas-pasan kekuatan ekonominya pun ada yang buruk dalam golongan ini. “Orang Kaya sombong, wajar. Lah kalau orang miskin?” begitulah kira-kira banyak orang mengomentari mahasiswa tipologi ini. Selain itu, istilah lain dalam tren tipe hedonis adalah kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang), kunang-kunang (kuliah nagkring-kuliah nangkring), juga tak sedikit dari mereka yang menjadi shopaholic, hampir setiap tempat sudah di jambangi, untuk beli ini beli itu. Mulai dari Indo PN, Hawaii, pasar malam dan lain-lain

Memang tipe hedonis terlanjur dianggap jauh dari tradisi kampus, tapi inilah realitanya. Kebanyakan mahasiswa hedonis, kuliah hanya sekedar singgahan, tak peduli berapa banyak matakuliah yang mereka tinggalkan demi nongkrong bersama teman. Namun sekilas pengamatan saya, rata-rata mahasiswa hedonis berkeperibadian terbuka dan ekstrofet. Mereka cukup kreatif dalam hal tertentu, hobi otomotif, stylish, dan melek teknologi. Tak heran, selain dapat sokongan dana dari orang tua, mereka juga pandai mendulang uang.

Yaa, selalu ada kelebihan dibalik kekurangan. Secara prestasi akademik, tipe satu ini jauh dibawah mahasiswa aktifis dan akademisi tapi tingkat kreatifitas mereka boleh diadu, mungkin bisa satu level diatas kedua tipe lainnya.

Mahasiswa Akademisi:
Tak perlu membayangkan tipe mahasiswa satu ini. Tenang saja, tak semua kutubukuberkacamata dan culun. Di zaman serba maju ini, mahasiswa akademisi juga pandai memoles citra, mulai dari cara berbicara yang elegan, ilmiah dan cerdik, mereka juga cukup rapi. yaa seperti ungkapan “anda takkan bisa membuat kesan pertama untuk kedua kalinya,” jadi, kaum akademisi cenderung hati-hati dalam menciptakan tradisi, kesan terpelajar sudah tentu menjadi backgound mereka.

Mahasiswa akademisi lebih sering ke perpustakaan dari pada ke pasar swalayan, sering menggonta-ganti buku daripada ganti handphone, dll. Soal akademik, itu wilayah mereka, membaca buku dan mengelaborasi berbagai ilmu untuk suatu penemuan sudah menjadi ruh. Bergabung dalam kelompok diskusi ilmiah adalah wadah kegiatan mereka dimana pelbagai persoalan akademik akan tumpah-ruah disitu, diulas dengan tepat, dikritik secara tajam, dibincangkan, sampai diperdebatkan pun menjadi fenomena yang lazim.

Selalu ada target dari mata kuliah yang dipelajari pada setiap semester, idealnya mereka ingin mendapat nilai baik. Hitam di atas putih adalah keniscayaan, artinya; gemilang di forum harus dibuktikan dengan nilai ijazah yang baik. Intinya, khazanah kampus kental terasa dilingkungan mahasiswa akademisi.

Dari semua tipologi mahasiswa diatas, tak ada yang 100% sempurna, selalu ada celah untuk menjadi kalah. Mahasiswa aktifis lama dikampus, mahasiswa hedonis disorientasi pendidikan, mahasiswa akademisi cenderung ekslusif. Tapi kiranya, menjadi bagian dari tiga tipologi ini harus dinikmati, ditingkatkan nilai positifnya dari setiap tipe dan posisi. Hendak menjadi apa dikampus adalah hak perogratif anda. Satu pesan saya. Jadilah pemain bola atau jadilah apa kata hatimu.

KURANGNYA MINAT MAHASISWA BERORGANISASI


Fenomena mahalnya biaya pendidikan, menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat waktu. Sehingga segala energi dikerahkan untuk membawa gelar sarjana/diploma sesegera mungkin. Tak jarang trend ‘study oriented’ mewabah di kalangan mahasiswa.

Dunia kerja yang akan digeluti oleh alumnus perguruan tinggi tidak bisa diarungi dengan hanya mengandalkan ilmu dari perkuliahan dan indeks prestasi yang tinggi. Ada elemen yang lebih penting, yakni kemampuan softskill. Kemampuan ini terkait dengan kemampuan berkomunikasi dan bahasa, bekerja dalam satu team, serta kemampuan memimpin dan dipimpin. Untuk mendapatkan keahlian-keahlian tersebut, mahasiswa harus mempunyai minat terhadap organisasi serta aktif di dalamnya. Organisasi merupakan sebuah wadah bagi sekelompok orang yang mempunyai tujuan yang sama. Di dalam organisasi, seseorang dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam berkomunikasi, bekerja sama dan mengambil keputusan melalui sebuah pemecahan masalah untuk mencapai tujuan bersama.

Namun dari survei dan pengamatan yang dilakukan, ternyata masih banyak mahasiswa yang kurang menyadari pentingnya organisasi dan softskill untuk diri mereka, serta masih banyak juga yang bepikir bahwa organisasi dapat memperlama masa kuliah mereka dan mengganggu kuliah mereka, sehingga belakangan ini minat dan kesadaran akan pentingnya berorganisasi khususnya dikalangan pelajar/mahasiswa/pemuda hindu di kota Palu sangat randah

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kuranya minat mahasiswa berorganisas diantaranya, yaitu :
Pertama, faktor kualitas aktifis dalam sebuah organisasi. dimana Aktifis sekarang cenderung tidak memiliki intelektualitas yang bagus. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kajian antar sesama aktifis. Mereka hanya cenderung membicarakan persoalan-persoalan yang tidak penting. Selain itu, aktifis organisasi tidak mau untuk belajar mandiri serta sering mengulur-ulur waktu untuk melakukan kajian keilmuan.

Kedua, faktor organisasi mencatat presentase sebesar 19,5%. Organisasi saat ini tidak memiliki SDM yang baik, sehingga kepengurusan di organisasi tidak berfungsi. Akibatnya, organisasi mengalami stagnan. Tidak ada perkembangan dalam menjalankan roda organisasinya. Buruknya manajemen dalam organisasi juga menjadi pertimbangan mahasiswa untuk tidak mau ikut bergabung. Selain itu banyak program-program organisasi yang tidak jelas arah tujuannya. Sehingga banyak mahasiswa yang belum mengerti pentingnya mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh organisasi. Hal ini bisa diakibatkan oleh minimnya komunikasi dan penyampaian informasi yang dilakukan oleh organisasi terhadap mahasiswa.

Ketiga, faktor ideology. Mahasiswa menilai bahwa organisasi ideologi kampus cenderung hanya menonjolkan kepentingannya sendiri tanpa melihat organisasi yang ideologinya berbeda, sehingga kader organisasi tidak bisa serius dalam belajar. Mereka hanya disibukkan dengan konflik antar ideologi yang pada dasarnya memang tidak bisa disatukan, karena ideologi sifatnya subjektif, tidak bersifat objektif.
Keempat, Hal ini merupakan penilaian mahasiswa terhadap organisasi tanpa melihat aktifis, organisasi, serta ideologinya. Mereka melihat dari kaca mata diri mereka sendiri. Keterbatasan pengetahuan terhadap organisasi serta persoalan-persoalan yang ada dalam internal mahasiswa, seperti, malas berorganisasi dan ketidak pahamanan terhadap organisasi membuat mereka tidak tertarik terhadap organisasi.

8 Hal Yang Harus Di Ketahui Bagi Mahasiswa


Kuliah itu seperti apa ya? Yang pasti kehidupan perkuliahan tentu saja jauh berbeda dengan kehidupan sewaktu SMU. Mulai dari gaya dosen menyampaikan pelajaran, menyelesaikan tugas, berpartisipasi dalam kelas dan mencari teman baru, semua adalah pengalaman baru bagi seorang pelajar yang baru memulai langkahnya sebagai seorang mahasiswa.

Ada beberapa keahlian yang perlu dimiliki mahasiswa untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan universitas. Terkadang ada yang sudah memiliki keahlian-keahlian ini tetapi belum memiliki kesempatan untuk menunjukkannya sehingga tidak sadar dengan potensi diri sendiri. Ada juga sebagian yang sembari menjalani kehidupan universitas berkesempatan untuk mengasah keahlian tersebut. Ya, masa kuliah memang adalah masa yang tepat untuk mencari dan membentuk jati diri kita sendiri.

Jadi apa saja keahlian yang penting untuk dimiliki seorang mahasiswa agar dapat mencapai yang terbaik di masa kuliah?

1. Fleksibel
Berpikiran terbuka itu penting. Semasa kuliah, apalagi di luar negeri, tentunya kita akan melihat banyak perbedaan pendapat dan kebiasaan hidup. Itu adalah hal yang wajar, karena latar belakang yang berbeda tentu saja akan mempengaruhi cara pikir dan kebiasaan hidup seseorang. Mengganggap perbedaan itu adalah sesuatu yang salah bukanlah langkah yang tepat. Akan lebih baik memanfaatkan kesempatan unik ini untuk mengenal kebudayaan dan kebiasaan rekan-rekan mahasiswa dari adat lain dan berbaur bersama mereka. Dengan demikian Anda telah memiliki salah satu kriteria yang diminati oleh perusahaan.

2. Tahan Banting
Mungkin sebagian mahasiswa menghadapi kesulitas pada awal kuliah. Tetapi jangan cepat menyerah. Tenanglah, di kampus anda akan memiliki dosen PA (Penasehat Akademis) walau tugasnya hanyakonsultan mengenai nilai, mata kuliah etapi lebih dari iitupun boleh dibicarakan. Jadi sewaktu menemukan masalah, berbicaralah dan carilah bantuan. Setelah itu mungkin Anda akan merasakan, sebenarnya masalah ini tidak sebesar yang saya kira.

3. Bisa menyesuaikan diri
Semakin kita dewasa, menyesuaikan diri dengan keadaan sangatlah penting. Semasa anak-anak, mungkin orang sekitar kita masih memberikan pengertian dan mengalah. Akan tetapi hal ini tidak berlaku semasa kuliah. Misalnya Anda takut untuk berpresentasi di depan umum. Dosen mungkin akan mengerti, tapi untuk mendapatkan nilai, Anda tetap harus berpresentasi dengan baik. Solusinya adalah datangi kakak tingkat anda atau sejenis perkumpulan mahasiswa yang membantu masalah ini. Disana mereka akan memberikan masukan dan melatih Anda. Salah satu pembimbing disana adalah dosen dan mungkin juga senior Anda yang juga dulunya memiliki rasa tidak percaya diri untuk berbicara di tempat umum. Masa kuliah adalah saat untuk keluar dari zona nyaman. Selalu jangan takut untuk membicarakan masalah yang dihadapi dan meminta bantuan. Pusat dukungan mahasiswa ada karena universitas/dosen mengerti,8 wajar saja mahasiswa baru menghadapi ketidaknyamanan dengan kehidupan baru mereka. Yang penting, mahasiswa mau berusaha untuk mencari solusi.

4. Menjadi anggota kelompok yang baik
Sewaktu kuliah banyak sekali tugas yang harus diselesaikan secara berkelompok. Bukan karena tugas ini tidak bisa diselesaikan sendiri, tetapi dosen memang ingin melatih kemampuan bekerja kelompok mahasiswa, dimana mereka bisa membagi tugas, menyelesaikan tanggung jawab, dan lagi yang paling penting adalah belajar untuk fleksibel dan bisa mengatasi perbedaan yang ada antara anggota kelompok. Kerja kelompok ini juga merupakan kesempatan baik untuk lebih mendekatkan mahasiswa dengan satu sama lain.

6. Bisa membaca situasi
Orang bijaksana bisa membaca situasi, sehingga mereka bisa mengajar atau bahkan memimpin. Sedangkan orang yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi hanya bisa mengikuti. Kemampuan ini akan sangat berharga pada saat memasuki dunia yang sesungguhnya: dunia kerja, dimana atasan atau orang di sekitar kita tidak akan memberitahukan dengan jelas apa yang sebaiknya kita lakukan. Jadi harus pintar-pintar baca situasi.

7. Belajar tanpa batas
Sewaktu kuliah nilai tentunya penting. Akan tetapi yang dimaksud dengan belajar disini bukan hanya sekedar ilmu tetapi juga keahlian-keahlian interpersonal lain. Ilmu itu tiada batas, begitu juga dengan dunia yang kita tempati sekarang. Perubahan selalu ada, sehingga kita harus tetap awas dan belajar supaya tidak ketinggalan.

8. Memanfaatkan kesempatan yang ada
Bagi sebagian orang, yang penting sewaktu kuliah adalah mengejar nilai, sehingga bisa mendapatkan sertifikat dengan nilai yang bagus. Tetapi ada juga juga orang yang memanfaatkan masa kuliah untuk mencari teman, menikmati kehidupan sosial sebagai seorang mahasiswa. Sebagian lagi mengerti kuliah adalah persiapan memasuki dunia kerja, sehingga memanfaatkan waktu ini dengan baik untuk membangun koneksi, baik dengan dosen, atau dengan atasan sewaktu magang, sehingga nantinya lebih gampang menemukan pekerjaan. Termasuk yang manakah Anda?

Polemik Tanggal Resmi Hari Maritim


Polemik penetapan Hari Maritim Nasional di tengah berjalannya visi poros maritim dunia tak urung tuntas. Kendati ada pihak yang mengusulkan tanggal 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional namun dinilai alasannya masih kurang kuat.

Mengutip kata sekjen Assosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakhri kepada salah satu media online maritimnews.com. Beliau mengatakan penetapan 21 Agustus sebagai Hari Maritim Nasional kurang relevan dari sisi sejarah maritim nasional.

Menurutnya, alasan penyerangan rakyat kepada Gudang Militer Jepang di Pulau Nyamukan, Surabaya,  4 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 dikumandangkan tidak bisa dijadikan ukuran dalam menetapkan Hari Maritim. Pasalnya banyak daerah seperti Sibolga, Cirebon, Tanjung Priok dan Tegal yang melakukan upaya yang sama untuk memperkuat persenjataan rakyat (saat itu belum ada BKR, TKR dan TNI).

“Angkatan bersenjata kita belum berdiri saat itu, BKR Laut sendiri yang merupakan cikal bakal TNI AL baru berdiri 10 September 1945. Jadi agak keliru, kalau atas dasar penyerangan rakyat ke tangsi militer Jepang dijadikan Hari Maritim Nasional,” terang Ahlan.

Kemudian timbul beberapa pembahasan di tataran nasional bahwa Hari Maritim Nasional seharusnya bertepatan dengan Musyawarah Maritim pertama dan terakhir kalinya yang jatuh pada tanggal 23 September tahun 1963 di masa Pemerintahan Bung Karno.

Keppres Nomor 249 tahun 1964 ternyata menjadi landasan hukum Hari Maritim Nasional. Dengan dasar ini, pemerintah tinggal menegaskan kembali dan jangan sampai lupa dengan sejarah. Karena akan berakibat fatal bagi perjalanan poros maritim kalau sejarah maritim saja kita tidak tuntas.

Kendati sudah ada diskusi-diskusi kecil yang menghadirkan beberapa stakeholder baik dari ahli dan pemerintah, namun sayangnya belum ada keputusan dan pengumuman secara resmi mengenai Hari Maritim Nasional.

Hal ini sekaligus mencerminkan tindakan inkonsistensi para ahli sejarah untuk mengungkapkan sikap, terhadap Hari Maritim Nasional. Ke depan seharusnya disosialisasikan kepada anak bangsa ini akan peristiwa penting yang terjadi pada 23 September 1963 itu, agar kita saat ini tidak kehilangan arah.

Untungnya polemik ini di tangani oleh deputi IV bidang Budaya, SDM dan IPTEK Maritim Kemenko Maritim yang dipimpin oleh Safri Burhanuddin. Beliau telah membentuk tim khusus untuk mempelajari polemik ini. Namun hingga kini hasil dari penelusuran tim tersebut masih ditunggu oleh 240 juta rakyat Indonesia yang sedang bertransformasi sebagai bangsa maritim. 

Alasannya Organisasi Mahasiswa Merosot


Pada dasarnya, organisasi mahasiswa memiliki peran yang signifikan dalam sejarah bangsa. Namun sejak 1998, tidak ada lagi gerakan mahasiswa yang dihasilkan organisasi mahasiswa, yang berakibat besar terhadap bangsa. Pengurus organisasi mahasiswa, sebuah jabatan sakral dimasa lalu, sekarang tidak lebih dari "orang aneh sok sibuk yang tak dipeduli" oleh rekan rekannya. Ia bukan lagi tokoh yang diidolakan, dihormati dan dihargai. Gerakan mahasiswa, momok bagi para status quois sekarang tak lebih keren ketimbang demonstrasi bayaran.

Organisasi mahasiswa, intra maupun ekstra kampus, secara umum mengalami beberapa kemunduran. Antara lain, kurangnya kuantitas kader. Kurangnya kualitas kader. Dan terlalu banyaknya dinamika yang kurang produktif yang menghambat perkembangannya.

Organisasi mahasiswa pada dasarnya, "sekolah ekstra" tempat menempa mental dan kemampuan manajerial mahasiswa, menjadi sangat penting untuk dijaga. Sebab kita dapat bayangkan, betapa lemahnya bangsa ini kedepan jika mahasiswa saat ini yang kelak melanjutkan estafet pembangunan, minim pengalaman organisasi.

Cara pandang 70-80an
Agar organisasi dapat bertahan, ia harus mampu menghadapi tantangan zaman. Organisasi mahasiswa di era 80-an, berada dibawah tekanan. Militansi adalah karakter utama gerakannya. Kader ditekankan memiliki militansi yang kuat. Militansi disini dalam artian, kuat memperjuangkan kepentingan umum. Bila dispesifikkan lagi, kuat demo. Cukup modal isu (yang bahkan belum terverifikasi validitasnya), rapat aksi, maka terjadilah demo besoknya. Militan bukan?

Model pengelolaan kaderisasinya yaitu dengan mengandalkan senioritas. Seniorlah yang pegang kendali. Bukankah senior tak pernah salah, dan bila salah kembali ke pasal satu ? Mengapa demikian, karena pada zaman itu, belum ada batasan masa kuliah. Hal wajar bila orang kuliah S1 sampai belasan tahun.

Saat itu, pengurus apalagi ketua lembaga, bagaikan Dewa. Ia dipuja oleh para yunior. Ia menjadi suri teladan yang dihormati dan disegani. Selalu dikawal oleh kawan kawannya, bak artis saat ini.

Memandang tahun 2016
Sejak reformasi 98, banyak perubahan mendasar dalam sistem tata negara kita. Kemudian berdampak pada sistem sosial. Sebagai contoh, terbitnya UU kebebasan pers dan terlepasnya rakyat dari represi orde baru (tuduhan komunis, tuduhan tindak subversif, penculikan, petrus dsb), menjadikan media kita sangat bebas. Ditambah lagi perkembangan teknologi informasi, sehingga informasi semakin mudah diakses. Perang isu menjadi hal lumrah saat ini.

Perubahan lain misalnya dihapuskannya ospek dengan alasan melanggar HAM. Walhasil, taring para senior menjadi ompong. Senior yang mencoba sok jagoan didepan yuniornya, akan menjadi bahan tertawaan. Beda, bila hal itu dilakukan beberapa puluh tahun lalu.

Generasi hedon, sesuatu yang amat langka di era 70, 80 dan 90an, menjadi hal umum saat ini. Budaya hedonisme, membuat banyak mahasiswa tidak lagi mementingkan berorganisasi. Tantangan semua organisasi adalah bagaimana membuat organisasi mahasiswa menarik bagi mahasiswa ditengah budaya hedonisme.

Merosotnya Organisasi Mahasiswa
Jelas, peran organisasi mahasiswa makin merosot akibat terlalu banyaknya dinamika yang tidak produktif, terutama saat suksesi. Selain itu organisasi mahasiswa kurang tanggap terhadap tantangan zaman. Organisasi yang hidup di tahun 2016, tapi paradigma pengelolaannya masih tahun 70-80an. Bila dibiarkan, organisasi mahasiswa diambang kehancuran. Pada gilirannya, akan melemahkan bangsa. Sebab sebuah kekuatan penting, yaitu mahasiswa, tidak lagi memiliki saluran energi positifnya.

Penguatan intelektual
Tradisi membaca, harus kembali dihidupkan. Organisasi mahasiswa semestinya mewadahi hal tersebut. Melalui kegiatan bedah buku atau sejenisnya. Pengadaan perpustakaan. Diskusi berkala. Dan hal hal ilmiah lainnya.

Bukan hal tabu, bila organisasi mahasiswa mengundang pejabat publik untuk meminta klarifikasi atau pencerahan tentang sebuah kebijakan. Ketimbang terburu buru turun kejalan atas isu yang lemah argumentasinya. Sehingga ada perbandingan antara isu, realitas lapangan, regulasi dan kebijakan. Menjadi mahasiswa yang bijak membaca situasi itu lebih baik ketimbang gampang dikompori dengan maksud agar dianggap militan.

Mental, Nalar dan Retrorika Mahasiswa


Banyaknya kesempatan berbicara di muka umum adalah sesuatu yang ternilai dan berharga bagi setiap mahasiswa, sebab untuk melatih dan meningkatkan mental salah satunya. Dengan terbiasa maka rasa canggung akan memudar seiring waktu, lalu rasa kepercayaan diri akan bangkit seketika. Banyak dari mahasiswa belum memaknai bahwa mempersentasikan hasil tugasnya adalah cikal bakal dari berprosesnya mentalitas, retrorika, dan majunya kenalaran dari seorang mahasiswa itu sendiri.

Dalam sebuah persentasi, ketika memaparkan hasil karyanya maka secara sadar kita telah bermain premis, berasumsi, melatih mimik muka, membetuk gerak tubuh yang ideal serta mengatur intonasi suara ketika di hadapan para audiens. Begitu juga dengan moderator, kata-kata yang telah tersusun secara protokoler membuat acara terkesan formal sehingga mental dapat terlatih dengan hal ini.

Ketika mahasiswa hanya mempunyai satu spesialis saja maka dia termasuk mahasiswa yang ingin berada di zona aman terus, tidak ingin keluar mencari ilmu baru agar bertambah kualifikasi spesialisasinya. Padahal inilah hal yang paling dasar, dan paling mudah untuk dilakukan agar kelak kita menjadi mahasiswa yang berpotensi.

Nah, dengan menyadari akan pentingnya pengaruh kegiatan yang ada di kampus terhadap masa mendatang. Maka implementasikan keahlian itu ke dalam suatu wadah yang lebih menarik yakni ke dalam sebuah organisasi. Agar tidak hilang dengan sendirinya karena vakum dari metode perkuliahan tersebut atau seiring melemahnya minat dalam hal membentuk kharakter mahasiswa yang mempunyai potensi pemimpin di masa depan.

Revolusi Akal Sehat


Terima kasih kawan. Kalian telah memulai membaca wacana ini. Teruskan, jangan berhenti hingga selesai. Apapun warna kulitmu, apapun agamamu, apapun jenis kelaminmu, kalian adalah sekumpulan orang yang saya sebut Maha dan Siswa. Bukan siswa, sebutan remaja yang masih berkutat dengan meja dan buku. Tapi kata yang di tambah Maha, menurut saya hebat akalnya, retrorikanya, hingga perasaan yang bernuansa kritis tanpa terkikis hingga usia menipis.

Inilah kisah Mahasiswa yang hidup di istana tempat ia meraih gelar sarjana. Kisah ini tidak selayaknya di publikasi ke umum, namun tujuan sebenarnya adalah generasi sesama, jadi apa boleh buat, wadah saja tidak disediakan, untuk menyalurkan keluh kesah kami. Mulai dari perilaku pengajar kami, lapak tanah yang tidak tahu pemiliknya, dan parahnya lagi keadaan anak didiknya yang dipaksa -walau hanya sebagian- untuk banting tulang dalam. membayar kewajibannya. Bukan salah pendidik, bukan juga yang di didik, terlebih lagi yang menciptakan serta merumuskan tempat mendidik tersebut. Semua biarlah berlalu, kini bukan lagi memikirkan yang dulu. Tetapi memikirkan hari ini, esok dan tahun depan. Bukan untuk perut, sanak, atau pun jabatan, tetapi berfikir untuk peradaban daerah yang sudah jauh tertinggal ini.

Akhirnya lagi-lagi peran Mahasiswa yang harus menjadi produser hingga aktor, lakon harus di mainkan seperti tujuan awal. Yakni menjadikan tempat calon sarjana ini menjadi lebih baik -katakanlah dari yang berswasta menjadi negeri. Dan dosen tidaklah di belakang seperti kebanyakan orang mengatakan kami di belakang mendukung kalian. Tetapi juga ikut berperan, bukan hanya berakselarasi di kala Mahasiswa telah sukses dengan tujuannya dasarnya. Dosen juga harus ikut bersama Mahasiswa menciptakan isu yang patut diperjuangkan demi kemajuan peradaban.

Jadilah seolah kalian anak tempatan, berilah sepercik harapan bagi mereka yang menginginkannya walau terkadang rasa ketidakpastian kalian terbesit. Bukan saja Mahasiswa, dosen atau para penduduk kampus yang giat menyuarakan ini, semua elemen patutnya menyadari dengan merespon dan menindaklanjuti apa yang seharusnya dilakukan -ibarat mencari jalan tengah. Bagi sesama akademisi, pejabat, pengamat dan birokrat juga tidak ketinggalan. Khusus nama yang terakhir ini, baiknya wacana yang telah dinantikan Mahasiswa diketengahkan dalam setiap agenda. Demi keberlangsungan memajukan daerah oleh Mahasiswa tempatan, bukan orang luar.

Lebih logis lagi. Tujuan pendidikan di suatu daerah demi memeratakan kemajuan berfikir, bukan hanya terfokus di satu tempat, pantaskah sebutan “kolot” dalam berfikir bagi penguasa negeri ini, jika hanya satu suku, ras, agama yang di prioritaskan?? Pemerataan itu perlu, hanya dengan hal keilmuanlah kemakmuran, kesejahteraan, ketentraman bisa tersaji. Serta konflik dan kesenjangan sosial, kebodohan atau cara pandang yang lemah boleh jadi, akan teratasi dengan adanya reformasi pendidikan.

Liat saja, sekarang gaung timur ingin dijadikan poros maritim nasional. Demi terwujudnya keinginan raja untuk mendunia dalam hal maritim. Lalu barat, bukan jawa. Kepri yang nyatanya sangat tepat dikatakan maritim karena tergugus dari pulau berpotensi sangat baik dalam menopang kemajuan nasional jika didahulukan. Adakah indikasi ketakutan dari raja, atau pusat tidak menyanggupi bila mana Kepri menjadi maju dan berani menjadi kerajaan sendiri sebagaimana kerajaan Riau-Lingga dahulu.

Bisa saja terjadi, bila anak tempatan telah berubah menjadi sarjana hukum, hingga profesor hukum. Hukum maritimpun bila berada di pundak anak tempatan tidak menutup pintu, bahwa Kepri bisa saja menjadi sebuah kerajan baru yang berlabel republik.

Akhirnya, ini hanya sebuah karya kosong, tulisan yang tak masuk akal. Penuh ketidakpastiaan, dan biarkan kata-kata ini di rajut oleh orang-orang yang peduli. Peduli terhadap peradaban indonesia barat laut terutama. Dan semoga kata yang berbingkai harapan ini kembali di muat pada hari yang di tunggu-tunggu. Yakni hari reformasi akal sehat.

Tulisan ini juga di muat pada media online Lihatkepri.com/lihat opini/Reformasi Akal Sehat

Sosialisasi LDK Universitas Karimun Kepada Calon Mahasiswa Baru

Assalamualaikum Wr. Wb

Dalam mememuhi tuntutan zaman agar terwujudnya manusia yang berkualitas baik secara duniawi maupun surgawi maka LDK Universitas Karimun melakukan sosialisasi pada calon mahasiswa baru di kampus Universitas Karimun.

Pengenalan terhadap UKM berkonteks agama islam ini diketuai oleh saudara Ahmad, dalam sambutannya ia menjelaskan beberapa materi di antaranya visi misi, struktur, program kerja, dan lain-lain. Tak lupa juga hadir salah satu alumni LDK Universitas Karimun untuk memotivasi kepada calon mahasiswa baru.

Sambil melakukan sosialisasi pihak LDK Universitas Karimun juga melakukan open rekrutmen anggota baru, untuk melengkapi struktur organisasi yang ditinggalkan oleh mahasiswanya setelah habis masa perkuliahan. Di harapkannya dengan adanya kegiatan ini calon mahasiswa baru bisa mengerti akan pentingnya memikirkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat.

Berikut foto-foto kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 17 September 2016.







By : Kabid Dokumentasi LDK Universitas Karimun

Mapala Gunung Jantan Universitas Karimun Unjuk Gigi Pada Mahasiswa Baru

Salam lestarii..!!

Slogan seperti di atas selalu melekat pada mahasiswa pecinta alam ini seakan menjadi roh bagi mereka. Begitu la yang terjadi pada acara perkenalan UKM Universitas Karimun di sekretariat Mapala Gunung Jantan Universitas Karimun tadi.

Antusiasnya para calon mahasiswa, membuat para panitia dari pihak Mapala semangat untuk memperkenalkan UKM-nya yang berbasis edukasi ini. Sebelum kata sambutan Ketua MGJ Universitas Karimun, Wisnu Priambodo. Menjadi pembicara awal adalah Dony cacing, cacing adalah sebuah istilah dari nama rimba di lingkungan MGJ Universitas Karimun. Ia merupakan salah satu perintis yang membuat eksitensi MGJ UK dapat dirasakan hingga sekarang.

Acara tersebut juga di hiasi dengan atraksi Rappelling, dan juga perkenalan untuk alat-alat ketika out dor seperti tenda, tas ransel, sepatu khusus, topi lapangan, dan lain-lain.

Foto kegiatan Mapala Gunung Jantan Universitas Karimun








Hari Ini Mahasiswa Tidak Tahu Bentuk Perguruan Tinggi di Kampusnya


Ternyata, masih cukup banyak mahasiswa di luar sana yang tidak tahu bentuk dan tipe perguruan tinggi di Indonesia, terlebih tempat yang ia menimba ilmu sekarang. Padahal ketika telah menyandang gelar MAHA dan SISWA yang Maha artinya lebih diagungkan, harusnya hal demikian sudah disadari sebelum memasuki dunia perkuliahan. Karena sebagai mahasiswa kita harus pandai memilah tempat mana yang baik untuk mengenyam pendidikan sesuai dengan minat dam bakat kita. Perlu diketahui, setiap perguruan tinggi berbeda dengan yang lain, dari dalam proses perkuliahannya hingga berkaitan dengan karier yang akan dijalani nanti.

Baiklah, langsung saja kita simak penjelasan yang sesederhana ini.

1. Universitas

    Universitas merupakan perguruan tinggi yang terdiri dari beberapa fakultas, dan fakultas tersebut terdiri dari berbagai jurusan. Bentuk perguruan tinggi ini juga ada yang negeri seperti Universitas Indonesia dan yang swasta contohnya Universitas Karimun kebanggaan masyarakat Kabupaten Karimun.

    Dilihat secara fisik, universitas memiliki area luas dengan banyak gedung dan kelas. Jika secara gelar yang diberikan, universitas memberikan lebih dari satu gelar sesuai dengan jenjang -S1, S2, S3- dan jurusannya masing-masing.

2. Institut

    Menyelenggarakan pendidikan untuk kelompok disiplin ilmu pengetahuan sejenis adalah pengertian dari Institut. Sama seperti universitas yang memiliki fakultas, tetapi masih tetap dalam jalur atau jenis keilmuan yang sama. Biasanya Institut menawarkan jurusan-jurusan yang sifatnya lebih spesifik.

    Salah satu institut yang terkenal adalah ITB (institut Teknologi Bandung), ITB memiliki fokus keilmuan yang berkaitan dengan teknologi dan sains. Mantan presiden kita, yakni Prof B.J Habibie dan walikota Bandung 2013-2018, Ridwan Kamil, merupakan beberapa alumni dari perguruan tinggi tersebut.

    Dalam prosesnya mahasiwa yang memiliki ketertarikan ilmu yang sama akan sering bertemu, hal ini berbeda dengan universitas yang di dalamnya terdapat berbagai mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan.

3. Sekolah Tinggi

    Sekolah Tinggi akan lebih fokus atau berkonsentrasi pada satu lingkup keilmuan saja dan cakupannya lebih kecil dari institut.Contohnya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cakrawala. Pada sekolah tinggi biasanya hanya memiliki satu fakultas saja, jurusan yang ditawarkan pun biasanya tidak terlalu banyak. Karena memiliki konsentrasi yang pada bidang tertentu, secara fisik sekolah tinggi memiliki area yang relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan universitas atau institut.

4. Akademi

    Selain perguruan tinggi yang sudah dibahas di atas, ada juga perguruan tinggi yang berbentuk akademi. Akademi merupakan bentuk perguruan tinggi yang lebih spesifik, karena hanya fokus dalam penyelenggara pendidikan untuk suatu keilmuan dan keterampilan yang bersifat khusus.

    Beberapa akademii yang di sering kita dengar di antaranya adalah akademi kebidanan, keperawatan, pariwisata, kepolisian dan akademi militer (akmil). Karena bersifat khusus mak beberapa akademi dapat menentukan bentuk seleksi dan persyaratan masuk yang diperlukan terhadap calon peserta didik. Apalagi bila akademi tersebut memiliki ikatan dinas, tentunya proses penerimaan peserta didiknya akan lebih selektif.

5. Politeknik

    Politeknik ialah penyelenggara program pendidikan dalam jumlah bidang pengetahuan khusus, dan ia juga merupakan pendidikan vokasi. yakni pendidikan yang diarahkan pada penerpan dan penguasaan kehalian terapan tertentu.

   Jenjang pendidikan pada politeknik adalah Diploma I, Diploma II, Diploma III, dan Diploma IV (setara S1). Meski saat ini sudah jarang politeknik yang menyelenggarakan pendidikan untuk Diploma 1 dan II. Jika ingin melihat secara langsung bagaimana ruang lingkupnya perguruan tinggi berbentuk politeknik, pergi saja ke Batam dan di sana ada salah satu Politeknik terbaik Indonesia yakni Politeknik Negeri Batam.

Sofian.
Kabid Humas Hima-MKP UK

Budaya Mahasiswa Mulai Terancam Hilang


Semua mahasiswa pastinya mengerti akan perubahan zaman, karena mereka merupakan bagian dari objek yang merasakannya. Namun apa mahasiswa sekarang masih tetap idealis sebagai mana dengan mahasiswa dulu.

Sudah saatnya dipertanyakan apakah masih ada jiwa semacam itu bersarang di dalam diri mereka. Gelar prestisius yang disandang mahasiswa, seperti agent of social change, agent of control, agent of transformation, dan intelektual muda kini sudah kurang populer untuk ditempelkan di atas nama mereka. Agaknya motivasi bung karno yang terkenal dengan "Mengguncang dunia hanya dengan 10 pemuda" telah menjadi buian kosong dan tidak logika menurut akal mereka. Wajar saja seandainya demikian, karena zaman menuntut mereka untuk di ikuti dan kesadaran cinta tanah air untuk memajukan bangsa hanya sebatas pandai menyanyikan lagu indonesia raya.

Mari kita mencoba untuk melakukan refleksi singkat sekaligus membandingkan aktivitas mahasiswa dahulu dengan aktivitas mahasiswa zaman sekarang. Jika ada sebagian orang mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas mahasiswa dahulu sudah tidak relevan untuk dipraktekkan mahasiswa zaman sekarang, pada level tertentu mungkin itu benar adanya, tapi tidak seluruhnya benar. Sebab, ada beberapa aktivitas atau budaya mahasiswa yang memang harus tetap dijaga kelestariannya serta berkesinambungan, seperti membaca buku, berdiskusi, melakukan advokasi masyarakat, melakukan kritik terhadap pemerintah, menyampaikan aspirasi, melakukan pertemuan-pertemuan antar mahasiswa, serta agenda-agenda positif lainnya.

Mahasiswa pekerja sosial. Bukan! Tetapi mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa, mereka agen yang siap menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, dan siap memberikan gagasan cerah pada saat menghadapi suatu persoalan. Minimal, mahasiswa harus jeli melihat sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai sebuah permasalahan, atau jangan-jangan mahasiswa zaman sekarang sudah tidak mengerti sesuatu yang disebut masalah?

Penyebab akibatnya pergeseran budaya bisa saja karena faktor internal maupun eksternal mahasiswa itu sendiri. Dalam perspektif psikologi perkembangan, lingkungan adalah faktor kuat yang dapat mempengaruhi pola pikir serta tingkah laku seorang individu. Artinya, perubahan pola pikir serta tingkah laku individu sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan di mana ia hidup, sebab kondisi lingkungan mengikuti perubahan zaman, dan itu merupakan hukum alam, meskipun sebenarnya manusia itu sendirilah yang membuat perubahan-perubahan tersebut.

Manusia harus mampu memproteksi diri dengan menggunakan akal serta mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Melihat relita aktivitas mahasiswa -kecuali belajar-, menjadikan kegiatan tersebut termasuk ke kategori keinginan. Padahal dalam konteks bermasyarakat kedepannya mahasiswa akan berbaur bersama rakyat, sehingga dengan banyaknya wadah dan aktivitas maka akan menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang. Maka suatu keharusan keinginan di ganti dengan makna kebutuhan!

Sebagian orang menganggap wajar pergeseran-pergeseran itu terjadi akibat perubahan arus zaman. Dan sebagian lainnya menyalahkan proses pembelajaran di kampus yang tidak mampu menumbuhkan kesadaran (kognitif) mahasiswa. Ada lagi sebagian lain justru menyalahkan individu-individu mahasiswa itu sendiri karena dianggap lebih memilih gaya hidup hedonis nan pragmatis, enggan untuk diajak berpikir dan berjuang. Bahkan, ada lagi sebagian lain yang justru beranggapan agak ekstrim, bahwa mahasiswa zaman sekarang tidak cerdas dan jika boleh dikatakan, bodoh

Terlepas dari hal itu, apa pun faktor yang menjadi penyebab pergeseran budaya mahasiswa tersebut harus kita akui bahwa realitas seperti itu memang sungguh-sungguh terjadi dan jangan mencoba tutup mata, terutama kepada mereka yang memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan peran serta fungsi mahasiswa. Karakteristik mahasiswa zaman sekarang memang sudah jauh berbeda dengan karakteristik mahasiswa zaman dahulu, dan itu sangat mudah menilainya dari aktivitas yang mereka pertunjukkan sehari-hari, baik di kampus maupun di luar kampus.

Masih segar ingatan kita ketika mahasiswa menjadi pelaku sejarah dalam menumbangkan rezim orde lama, kalau tidak ada Mahasiswa mungkin parlemen kesulitan dalam menumbangkan pemeritahan di bawah presiden Soeharto. Artinya, ada beban sejarah yang dipikul mahasiswa sekaligus ada suatu harapan yang membumbung tinggi atas keberadaan mereka di negeri ini. Mau di bawa ke mana citra, beban sejarah serta harapan besar itu?

Kelompok Baru di Dunia Mahasiswa | Komunitas Alfa Sejarah


Masyarakat Indonesia saat ini, terlebih yang muslim tampaknya tengah terserang demam komunitas alpa sejarah. Apa itu komunitas alpa sejarah? Komunitas alpa sejarah adalah sebuah kelompok atau elemen masyarakat yang tidak mempunyai sejarah, itu bahasa kasarnya. Kalau bahasa halusnya berarti masyarakat yang melupakan sejarahnya atau sengaja dibuat lupa oleh pihak luar.

Presiden pertama kita, Bung Karno, pernah berpesan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” alias jas merah. memang benar pesan Bung Karno tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika sejarah otentik sulit untuk didapatkan, apa yang harus dilakukan?

Saat ini, harus kita akui bersama bahwa sejarah Indonesia dan Melayu telah raib digondol tuyul. Bukti-bukti yang berupa prasasti hanya sedikit, itupun dari zaman Hindu Buddha. Apalagi bukti artefak yang sengaja dibom oleh Belanda agar masyarakat Indonesia, khususnya muslim tidak tahu akar sejarahnya.

Coba tanyakan pada mahasiswa kita, apa itu Kesultanan Aceh, Samudra Pasai, Perlak, Pelembang, Banten, Demak, Pajang, Mataram, Girinata, Tidore, Gua Talo, Buton, dan kesultanan-kesultanan lain, apakah mereka tahu? Atau jangan-jangan mereka hanya tahu Majapahit, Kediri, Singosari, Mataram Kuno, Sriwijaya, dan sejenisnya?

Manusia yang histori akan gila. Terombang-ambing. Begitulah masyarakat Indonesia. Mereka sibuk caplok sana caplok sini dalam mencari pedoman hidup. Padahal, mereka telah memiliki sejarah dalam sosial, sejarah dalam politik, sejarah dalam ekonomi. Namun sekali lagi, masyarakat kita terlahir dari komunitas alpa sejarah.

Mari kita bandingkan dengan Eropa Timur. Dalam sejarah Eropa Timur kita mengenal Emperium Ottoman. Sebuah kesultanan islam yang selama enam abad mengenggam peradaban dunia.

Pada tahun 1942, Ottoman runtuh dan digantikan oleh sistem sekuler yang dibawa oleh Mustafa Kamal, seorang Yahudi. Setelah lama berjalan, kurang lebih 80 tahunan, ternyata sistem sekuler kamalistik malah membuat Negara Turki terpuruk. Moralnya, ekonominya, politiknya, demokrasinya, semuanya terpuruk. Hingga akhirnya muncul sosok presiden yang saat ini ingin mengembalikan sejarah keemasan Turki masa lalu.
Dan ternyata benar saja, di tangannya Turki menjadi negara terkuat peringkat 16 dunia. Luar biasa. Mengapa demikian? Karena dalam kamus orang Turki, negara mereka pernah maju dengan sistem Islam, dan hancur karena sistem sekuler.

Rakyat Turki benar-benar paham sejarah mereka dan mereka tidak bisa ditipu. Terbukti jutaan rakyatnya turun untuk membela sang Presiden yang hendak dikudeta dan dibunuh militer, 15 Juli yang lalu. Kalau bukan karena paham sejarah, melek sejarah, saya yakin rakyat Turki tidak akan bangun dari tidur malamnya untuk membantu sang Presiden.

Sekarang kita lihat Negara kita. Sejarah kita telah diperkosa, dilecehkan, dilenyapkan dan dibunuh. Sejarah kita telah hancur oleh Snouck. Dalam sejarah kita, hanya dikisahkan bahwa Nusantara dan Melayu ini hanya pernah berjaya ketika Sriwijaya dan Majapahit berkuasa. Namun tidak pernah dikisahkan bahwa kesultanan Islam Nusantara jauh melebihi keberhasilan Majapahit dan Sriwijaya.

Peradaban Islam kalah itu pun gemilang. Terbukti dengan ribuan karya Ulama Nusantara yang tersimpan rapi di Perpustakaan Oxford University. Dan nahasnya, yang ditinggalkan kepada kita hanya kisah-kisah klenik Walisongo tanpa bisa merasakan karya-karya tulis para Ulama kita.

Apa maksud mereka? Mereka paham, sejarah bisa menjadi racun peradaban jika diselewengkan dan menjadi obat jika terjaga kemurniannya.

Dan orang-orang luar tersebut berhasil menjadikan sejarah kita sebagai racun untuk membunuh kita. Sekarang apakah kita berani untuk merubah racun tersebut menjadi obat? 

HIMA-MKP Wadah Pengembangan Bagi Mahasiswa Dalam Meningkatkan Wawasan Kemaritiman


Terbukti sudah bahwa dengan ekstensinya Universitas Karimun membuat kemajuan di sektor kepemudaan kian terasa, di bandingkan dengan tetangga seperti UMRAH, STISIPOL, STIKES, UIB, POLTEK BATAM, kita -mahasiswa U.K- memang telah jauh tertinggal dari mereka yang terlihat dengan pengabdiannya kepada masyarakat di setiap domisili kampus-kampus tersebut.

Keterlambatan U.K dalam mendidik calon sarjananya bisa dimaklumi, berbagai persoalan memang selalu menghampiri kampus milik yayasan 7 juli ini. Seperti kurangnya animo mahasiswa dalam sebuah persatuan untuk kemajuan individu maupun kelompok, tidak didukungnya pihak yang menangani U.K, belum ada alat penunjang dalam proses belajar mengajar khususnya di bidang penelitian, dsb.

Akan tetapi biarlah persoalan itu dikesampingkan terlebih dahulu, mari kita ambil point pertama yaitu animo mahasiswa U.K. Pada dasarnya animo mahasiswa terbangun karena ada wadah tempat mereka berkumpul -menghimpun segala aspirasi mahasiswa. Yakni dengan memupuk rasa persatuan antar mahasiswa yang terjalin ke dalam organisasi-organisasi internal maupun eksternal.

Baru-baru ini Universitas Karimun telah memiliki sebuah himpunan mahasiswa yang bernama HIMA-MKP Universitas Karimun. Satu saja tidak cukup, perlu lagi ada hima-hima lain yang siap kami tunggu baktinya.
Sentar terdengar organisasi internal lainnya siap bermunculan. Seperti jurusan teknik informatika, lalu penjaskesrek yang beberapa hari yang lewat telah selesai melaksanakan mubes perdananya. Semoga saja pengaruh ini cepat berkembang luas hingga U.K tidak vakum dengan kegiatan-kegiatan.

Semua mahasiswa pasti tidak jauh berbeda, tidak peduli berapa banyaknya perbedaan jurusan, sudut pandang, arah pengembangan organisasi. Mereka pasti menginginkan kampus U.K menjadi lebih baik dari yang lalu.

#HidupMahasiswa
#SalamPergerakkan

Mahasiswa Bukan Mahakuasa


Hari ini yang di takuti orang -pengacau- hanya ada dua, yang pertama adalah Mahakuasa dan kedua ialah Mahasiswa. Begitulah ungkapan para kaum intelektual dalam upaya menghibur diri dari keterasingan mereka. Terlalu dini bila mengatakan mahasiswa bagian dari momok para pengacau dalam bernegara, liat saja mahasiswa bukan 1 seperti tuhan, ia banyak dan tak terhingga. Sehingga watak, dan kharakter yang dihasilkan pun berbeda. 

Terkadang sulit untuk disatukan, butuh proses yang tidak sebentar untuk mewujudkannya. Tetapi, jika keresahan sudah sepenanggung maka kata perasatuan rasanya sulit untuk di elakkan.

Data empiris menunjukkan fenomena mahasiswa berdasarkan lingkungan mengakibatkan pengaruh besar bagi perkembangan mahasiswa itu sendiri. Dari perilaku dosen yang ia terima pun tak luput dari tumbuhnya asupan gizi intelektual seorang mahasiswa. Memang pada dasarnya, kembali lagi pada mahasiswa itu sendiri. Jika rasa dorongan tersebut belum timbul akibat dari masih labilnya -baru beranjak dari masa transisi menuju remaja dewasa (SMA)- seyogyanya dosen sebagaimana sama dengan orang tua, yakni terbuka melalui inisiatif untuk membuka lebih dalam lagi cakrawala dunia ini melalui pendekatan-pendekatan gaya khasnya  tersendiri.

Mahasiswa bukanlah mahakuasa, ia tidak bisa apa-apa kecuali hanya bisa berteriak di kala ia tertekan. Beralaskan semangat juang membela kebenaran dan harapan untuk mewujudkan sesuatu yang terbaik, bersenjatakan karton dan toa yang menjadi pembeda antara perusuh dan pendemo. Seakan mereka seperti tuan-tuan yang mereka hadapai sendiri, mereka belagak tahu hingga detail apa permasalahannya. Selama aksi berlangsung dogma yang mereka pegang ialah "praduga tak bersalah". Karena label mahasiswalah yang menyebabkan semuanya dapat terjadi.

Namun harus di ingat, mereka hanya manusia biasa seperti kita -masyarakat, pejabat, konglomerat- yang mempunyai perasaan juga, tidak semestinya langsung jadi, butuh proses, jadilah mereka merenung meratapi nasib aspirasinya. Beda dengan Tuhan yang dengan hanya berkendak maka jadila apa yang Ia mau. Tapi tidak untuk mahasiswa. Mereka harus menunggu, terkadang masa suntuk tersebut sirna begitu saja seiring liciknya dunia dengan berbagai loby atau tarik ulur dari yang berperan penting. Boleh jadi ketua dari para ketua, dan hampir-hampir boleh jadi semuanya jika di imingi-imingi dengan berbagai kekayaan duniawi.

Universitas Karimun Harus Seperti UMRAH



Kampus yang sehat adalah kampus yang benar menjalankan tri darma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi kalangan akademis penelitian merupakan tujuan mutlak dari eksitensinya perguruan tinggi. Tak lupa juga dengan mengembangakan hasil penelitian yang berpotensi membawa hawa baik dalam peradaban di skala nasional, regional atau jenjang yang lebih kecil sekalipun. Lalu, setelah melakukan kegiatan dua hal tadi rasanya tidak tepat hanya sebatas bergulat dengan teroritis. Baiknya dilakukan dengan turun langsung ke lapangan bersama rakyat untuk mewujudkan apa yang telah didapat selama berada di bangku kuliah.

Namun nyatanya, kampus yang sehat tidak seperti di harapkan. 70 persen mahasiswa di Universitas Karimun adalah pekerja dan sisanya non pekerja, dengan data ini apakah bisa menjadi kampus yang berkualitas menurut tri darma perguuan tinggi. Agaknya hanya pengabdian yang bisa dilakukan, tetapi tidak seperti mahasiswa kebanyakan. Yang siap secara mental, intelek, dalam menangani berbagai masalah di lapangan. Wadah saja tidak cukup, belum lagi masalah waktu yang terbuang hanya untuk bekerja. Tidak bekerja maka tidak bisa kuliah, barangkali slogan seperti ini sudah menjadi motto dari masing-masing individu. Terlepas itu semua, ada sebagian mahasiswa yang aktif dari kegiatan kemahasiswaan. Namun jumlahnya tidak banyak, dan lambat laun mahasiswa yang berpeluang besar dalam kesuksesan di masa depan ini, dalam ketertarikannya mereka akan terpengaruh oleh lingkungan sekitar seiring bergulirnya waktu.

Lalu bagaimana solusinya? Apakah kampus ini dipindahkan ke yayasan yang lebih bertanggung jawab. Atau dikembalikan ke pemerintah untuk mengurusinya. Mungkin jawaban yang terakhir amat tepat, jika melihat situasi yang ada di civitas akademika Universitas Karimun. Bayangkan bila kampus berbaju negeri hadir di Kepri -berarti  ada 3 bila terwujud. Tentu akan memacu lagi semangat kampus lainnya dalam bersaing di kancah pendidikan terutama prestasi dalam pengabdian masyarakat. Baru-baru ini Politeknik Negeri Batam telah berhasil mengembangkan mikro chip dan juga mereka telah berhasil membangun kerja sama dengan perusahaan besar.

Lalu, UMRAH dengan segudang akses telah banyak menuai keberhasilan, kegiatan kemahasiswaannya telah banyak di ikuti dalam level yang lebih tinggi, regional maupun skala nasional dengan aktifnya kegiatan kemahasiswaanya. Dan terakhir, sebuah nama yang sulit untuk di banggakan. Entah itu kekurangan informasi atau memang tidak ada prestasi, yang jelas. Kami masih tertinggal, bahkan jauh tertinggal.

Menurut salah seorang dosen Universitas Karimun, ketika UK menjadi Perguruan Tinggi Negeri maka anak tempatan akan sulit untuk menagambil kesempatan tersebut. Kenapa?? Menurutnya dari hasil tes tertulis setiap tahunnya, menunjukkan bahwa calon mahasiswa yang berasal dari Karimun mayoritas tidak memenuhi standar kelulusan. Tapi apakah mindset seperti itu akan terus dipakai? Rasanya tidak, apa lagi jika kampus lain tengah berbondong-bondong memperbaiki sarana-prasarana, dosen, sistem hingga mata kuliah yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sementara kita hanya berdiam diri tanpa melakukan perubahan besar.

Benar, sekali lagi kita akan ketinggalan jauh, mahasiswa Karimun masih di anggap lugu, labil, belum dewasa untuk menyikapi di semua hal, termasuk halnya sendiri. Memajukan diri sendiri, kampus dan daerahnya sendiri.

Tidak Eksisnya Tuhan Berarti Keadilan Untuk Seluruh Manusia Di Dunia


Bagi manusia yang beragama ungkapan bahwa Tuhan itu maha adil sudah menjadi salah satu roh dalam berkehidupan mereka, mencari jodoh, rezeki, maupun nilai kuliah semua berpatokan dengan ungkapan “ah Tuhan itu pasti adil”. Kemudian korelasi dengan perkataan “tiada hasil yang mengkhianati usaha” yang telah menjadi hits dalam status di media sosial anak ABG kini kian menjadi suatu tolak ukur yang baik untuk menilai rasa adil Tuhan, selalu bersemangat menjalani hidup baik susah maupun senang. Itu la Adil sebuah kata yang berarti sama (tidak dibeda-bedakan).

Di salah satu artikel, saya pernah mengungkit rasa keadilan yang diberikan oleh Tuhan jauh melebihi dari hakim (manusia).  Mengingat manusia adalah tempat salah dan khilaf yang artinya tidak ada yang namanya sempurna di mata Tuhan karena hanya-Nyalah yang patut kita berikan kata sempurna. Nabi-nabi besar sekali pun di setiap agama tidak pantas dikatakan sempurna di hadapan-Nya, namun tidak menutup kemungkinan di mata kita.

Kembali ke rasa adil, mencermati keadilan di dunia ini indah rasanya bila kita menyinggung keadilan yang diberikan oleh Tuhan. Dalam konteks agama ingin saya katakan. Adilkah tuhan bila berwujud? lalu bagaimana dengan manusia yang buta, apakah ia bisa melihat sebagaimana temannya yang dapat melihat Tuhan? Ada 4 indera berada di tubuh manusia –Indra perasa tidak termasuk- yang semuanya sampai zaman modern ini tidak dapat manusia kembangkan menjadi alat untuk melihat, mendengar, mencium dan meraba zat-Nya. Bayangkan saja bila dari manusia diciptakannya terdapat yang tidak memiliki salah satu dari indra tersebut? Sangat logika jika tujuan Tuhan tidak ingin eksis adalah untuk mengisyaratkan bahwa maha adil yang dimiliki-Nya adalah keadilan yang paling Agung (Tinggi dari segala keadilan yang ada di dunia).

Karimun Menuju Perubahan


Salah satu manusia tercerdas di dunia “Albert Einsten” pernah berujar bahwa ukuran kecerdasan bukan terletak pada kebiasaan memakai alat-alat lama, tetapi pada kemampuan untuk merubah. Kalimat ini bagi saya harus di renungi disetiap orang yang yakin akan perlunya keberanian untuk berubah.

Dalam implementasinya setiap perubahan diperlukan percakapan. Bahasa dan cara-cara yang kita pakai dalam berkomunikasi akan menentukan suatu organisasi/komunitas, perusahaan, hubungan, dan masa depan. Kita harus memilih apakah ingin terus saling menyalahkan dengan menunjuk hidung, fokus pada apa yang tidak bisa dikerjakan orang lain. Atau sebaliknya, yakni fokus pada apa yang bisa dikerjakan orang bersama dan saling menghargai?? Ayo kawan.. saatnya kita bangun suatu peradaban yang bagus di karimun ini. Berubah dan beruba!

Meski saya bukan pakar motivasi seperti Mario Teguh tetapi saya setidaknya sudah berupaya untuk merubah melalui cara ini, yakni menyadarkan ke orang ramai-pentingnya makna perubahan-yang sibuk dengan kerutinan aktivitasnya.

Mari kita contohi penduduk jepang, negeri yang terkena musibah tsunami pada beberapa tahun yang lalu, bisa bangkit dalam sekejap dengan terlihatnya lumbung padi serta tanaman-tanaman yang siap mereka jual.

Jawaban yang langsung di kepala saya adalah mereka tidak suka bermalasan. Barang kali di setiap benak penduduk jepang bermalas-malasan adalah dosa besar. Semalas-malasnya manusia jika dibanding makhluk lain, manusia adalah makhluk yang punya nalar dan bisa belajar. So belajar adalah sarana untuk memperbarui diri. Tanpa belajar kita akan terperangkap hidup di masa lalu.

Seperti kata Albert Einstein lagi, “Kita tidak bisa memecahkan masalah-masalah baru dengan cara-cara lama.”

Senin yang lalu saya membaca buku Let’s Change karya Prof. Rhenald Kasall, Ph.D di perpustakaan daerah milik Pemkab Karimun. Beliau mengatakan rasa takut dan rasa sakit adalah dua instrument Tuhan untuk mengatur manusia. Tambahnya lagi, bagi sebagian orang rasa takut sudah bisa membuatnya berubah, tapi ada sebagian orang yang belum mau berubah meski rasa takutnya sudah amat jelas. Orang-orang seperti ini baru berubah setelah rasa sakit melebihi rasa takut.

Waww, menarik bukan kata-katanya? Saya rasa anda yang membaca kutipan dari profesor ini paham apa yang dimaksud, nah jika paham. Kapan kita ingin merubah? Apalagai sebuah perubahan besar untuk masyarakat umum. Tentunya masyarakat karimun, masyarakat yang perlu dituntun untuk berubah..

Indonesia kini, selalu menimbulkan masalah baru di berbagai daerah. Seperti kekerasan seksual, ketenagarakerjaan, kemiskinan, sampah berserakan, hingga mahasiswa yang dipandang sebelah mata. Di era ini perlu adanya orang-orang pergerakan dalam bentuk perubahan besara-besaran, bukan hanya berkutat di kursi panasnya sambil membanggakan teorinya yang tak pernah terealisasi.

Dan dari tulisan di atas, dapat kita simpulkan bahwa salah satu penghalang bagi manusia -Indonesia- untuk memperbarui diri adalah kita selalu merupakan produk dari masa lalu.

#salampergerakan.

Baca Juga : Nak Kemane? Tak ade ..

Sejarah Universitas Karimun


Rencana awal berdirinya Universitas Karimun adalah datangnya dari beberapa orang teman yang saat itu sebagai Mahasiswa Program Doktor Ilmu Administrasi Untag Surabaya yang salah satunya adalah Bapak Bupati Karimun H. Nurdin Basirun. Waktu itu kita semua berpendapat mengapa tidak kita dirikan sebuah universitas di Kabupaten Karimun dimana secara pinansial dan kuantitas rasanya kita mampu untuk mewujudkannya apatah lagi saat ini jumlah PNS kita rata-rata sudah berpendidikan S2 dan tentunya dapat membantu dalam pemenuhan tenaga pendidik,  dan sebentar lagi ada beberapa diantara kita yang sudah bergelar sebagi DR,  serta jika dilihat secara geografis dimana penduduk Kabupaten ini rata-rata tersebar di pulau-pulau dan untuk menlanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi setiap orang tua harus mengorbankan banyak materi dalam menyekolahkan atau melanjutkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan yanang lebih tinggi,  harapan kita dengan berdirinya nanti Universitas akan dapat membantu keringan orang tua terutama mereka yang berada di pulau-pulau yang tersebar di wilayah kabupaten Karimun, inilah salah satu cara kita untuk memenuhi salah satu azam Kabupaten Karimun yaitu peningkatan kualitas sumberdaya manusia.

Bertolak dari perbincangan tersebut di Surabaya, tanpa banyak membuang waktu setelah kita kembali ke  Karimun yaitu pada tanggal 10 Oktober 2007 kita mulai mencari dan menentukan sebuah nama yayasan  yang tepat untuk mengelola universitas, konsultasipun kita jalankan baik ke pihak legeslatif, maupun eksekutif dan unsur muspida Kabupaten Karimun .  Pada tanggal 22 Oktober 2007 terbitlah sebuah Akte Pendidirian Yayasan yaitu kita beri nama Yayasan Tujuh Juli Kabupaten Karimun yang dikeluarkan oleh Notaris Zulkarnien, SH,……. Dukunganpun mulai kita cari baik ke tinggkat pusat maupun ke tingkat provinsi.

Ibarat pepatah melayu mengatakan “Gayungpun bersambut”  pada tanggal 5 Maret 2008 kita mendapat dukungan penuh dari DPP Partai Golkar yang ditanda tangani oleh wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yaitu Bapak H.R. Agung Laksono dan Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar yaitu Bapak Sumarsono dan dukungan dari Gubernur Provinsi Kepulauan Riau pada tanggal 1 Pebruari 2008 yang ditanda tangani oleh Bapak Ismet Abdullah sebagai Gubernur Provinsi Kepulaun Riau, Dukungan begitu juga dukungan dari DPRD Kabupaten Karimun dan dari Bupati Karimun sendiri.

Dengan dukungan penuh dari Bapak Bupati, Assiten II saat itu Bapak Anwar Hasyim, M.Si, Ketua DPRD dan sebagian pejabat di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Karimun, kita mulai melaksanakn rapat-rapat rutin baik dalam hal pengurusan izin serta  pembentukan rektorat agar segala bidang administrasi universitas dapat berjalan pada saat awal dibuatlah suatu keputusan dimana Pihak yayasan mengintruksikan bahwa Sdr H.MS. Sudarmadi,S.Pd MM ditunjuk sebagai Rektor Universitas,  Biro administrasi akademik yang dipercayakan kepada Bapak Irwanto, S.Pd, M.Si, Biro Administrasi  Keuangan yang dipercayakan kepada Bapak Abdullah, S.Sos, M.Si serta Biro Adminstrasi Umum yang kita pecayakan kepada Bapak Helmi,SE, M.Si untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan universitas  serta Dekan-dekan di lingkungan universitas Karimun.

Pada tanggal 12 Maret 2008 secara resmi pihak yayasan tujuh juli Kabupaten Karimun menyampaikan surat usulan pendirian Universitas Karimun yang ditujukan kepada Direktur Akademik Departemen Pendidikan Nasional di Jakarta, dan pada tanggal 18 April 2008 kita mendapat balasan Surat dari Direktur Akademik Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional agar kita membuat studi kelayakan. Selanjutnya pada tanggal 7 Juli 2008 Bapak Bupati Karimun, Bapak Ketua DPRD Kabupaten Karimun , Bapak Assisten II (Anwar Hasyim, M.Si) Sekdakab Karimun, dan pihak rektorat menyerahkan langsung Studi Kelayakan universitas, beberapa hari setelah penyerahan studi kelayakan tersebut dan pada tanggal tersebut pihak rektorat dan dimintakan untuk menyampaikan audiesi di depan Ditrektorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional didepan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas di Jakarta,  beberapa hari setelah itu kita mendapat lampu hijau bahwa univesitas karimun akan segera diterbitkan izinnya.

pada tanggal 25 Agustus kita mendapat lagi sebuah  surat balasan dari Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi dengan nomor surat :   ………………tentang izin pertimbangan pendirian universitas Karimun setelah itu kita mulai melakukan berbagai pembenahan, baik sarana dan prasarana yang sudah ada, penetapan lokasi pendirian gedung iniversitas  serta rencana penerimaan mahasiswa baru,  Alhamdulillah minat yang ditunjukan oleh masyarakat Karimun cukup antusian dalam satu minggu kita sudah kebanjiaran mahasiswa sebanyak lebih kurang 1800 calon mahasiswa yang mendaftar, disini menunjukkan berapa pentingnya sebuah universitas di Kabupaten Karimun dan betapa antusiasnya masyarakat menyambut universitas ini walaupun secara adminstrasi kita sepatutnya belum boleh melakukan itu tapi kami berasumsi sesuatu perkara yang baik dan untuk memulai sesuatu tentunya kita harus berani dan mempunyai pertimbangan yang matang baik, kualitas maupun kuantitas.

Bapak BUPATI
Pematangan dan perbaikan segala macam bentuk administrasi terus kita jalankan begitu juga  konsultasi di Departemen Pendidikan Nasional setiap ada kesempatan terus kita kumandangkan terutama Bapak Bupati Karimun yang cukup komit dan antusias dalam mewujudkan Universitas Karimun, sumbangsih dan pemikiran beliau menjadi insfirasi tersendiri bagi pengurus-pengurus universitas tanpa semangat dan dukungan beliau kami pengurus tidak akan dapat berbuat apa-apa, apatah lagi pada masa-masa genting segelintiran masyarakat ada yang menyambut baik berdirinya universitas dan ada juga yang tidak mendukung berdirinya universitas di Karimun tercinta ini. Pengurus-pengurus universitas saat itu hanya pasrah dan berkeyakinan bahwa apa yang kita lakukan bukanlah untuk diri kita atau ingin menampilkan ego tersendiri, Universitas Karimun adalah milik semua masyarakat Karimun jika seandainya nanti Universitas ini menjadi yang terbaik di Kabupaten ini bukan pengurus yang akan bangga tetapi semua masyarakt karimun, berawal dari asumsi tersebut kami terus maju dan pada akhirnya terbitlah izin resmi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Direktur Akademik Departemen Pendidikan Nasional dengan nomor izin: 214/D/0/2008, dan yang menjemput langsung surat tersebut di Jakarta adalah Bapak Bupati Karimun, Ketua DPRD Karimun, Sekda Kab Karimun, Ketua Yayasan, Rektor Universitas Karimun dan beberapa Biro di Universitas Karimun.

Begitulah cerita ringkas berdirinya universitas Karimun ini, harapan kami mari sama-sama kita bergandeng bahu bantu membantu dalam bentuk pemikiran demi terciptanya universitas karimun universitas yang akan kita banggakan nantinya yang bukan milik siapa-siapa melainkan milik semua masyarakat karimun.
Wasalammualaikum Wr.Wb

   Rektor Universitas Karimun
*Tulisan bersumber dari blog ngawondo.blogspot.co.id